Kamis, 13 Desember 2012

Perkembangan Psikososial

A.    Perkembangan Psikososial       
Selama masa remaja terjadi perubahan – perubahan yang dramatis, baik dalam fisik maupun kognitif. Perubahan-perubahan secara fisik dan kognitif tersebut, ternyata berpengaruh terhadap perubahan dalam perkembangan psikososial mereka. Dalam uraian berikut, kita akan membahas beberapa aspek perkembangan psikososial yang penting  selama masa remaja.
1.    Perkembangan individuasi dan identitas
Masing-masing kita memiliki ide tentang identitas diri sendiri. Meskipun demikian, untuk merumuskan sebuah definisi yang memadai tentang identitas itu tidaklah meudah. Hal ini adalah karena identitas masing0masing orang merupakan suatu hal yang kompleks, yang mencakup banyak kualitas dan dimensi yang berbeda-beda, yang lebih ditentukan oleh pengalaman subjektif daripada pengalaman objektif, serta berkembang atas dasar ekplorasi sepanjang proses kehidupan (Dusek, 1991).
Dalam psikologi, konsep identitas pada umumnya merujuk kepada suatu kesadaran akan kesatuan dan kesatuan dan kesinambungan pribadi, serta keyakinan yang relatif stabil sepanjang rentang kehidupan, sekalipun terjadi beberapa perubahan. Menurut Erekson (dalam Cremers, 1989) seseorang yang sedang mencari identitas akan berusaha “menjadi seseorang”, yang berarti berusaha mengalami diri sendiri sebagai “aku” yang bersifat sentral, mandiri, unik, yang mempunyai suatu kesadaran akan kesatuan batinnya, sekaligus juga berarti menjadi “seseorang” yang diterima dan diakui oleh orang banyak . lebih jauh dijelaskannya bahwa orang yang sedang mencari identitas adalah orang yang inginkanya pada masa men “Siapakah” atau “Apakah” yang diinginkannya pada masa mendatang . bila mereka telah memperoleh identitas , maka ia kan menyadari ciri-ciri khas pribadinya, seperti kesukaan atau ketidaksukaannya, aspirasi, tujuan masa depan yang diantisipasi, perasaan bahwa ia dapat dan harus mengatur orientasi hidupnya.


a.    Pembentukan Identitas Diri
Proses pembentukan identitas diri adalah merupakan proses yang panjang dan kompleks, yang membutuhkan kontinuitas dari masa lalu, sekarang dan masa yang akan datang dari kehidupan individu, dan hal ini akan membentuk krangka berpikir untuk mengorganisasikan dan mengintegrasikan prilaku ke dalam berbagai bidang kehidupan. Dengan demikian individu dapat menerima dan menyatakan kecenderungan pribadi, bakat dan peran – peran yang di berikan baik oleh orang tua, teman sebaya maupun masyarakat dan pada akhirnya dapat memberikanarah tujuan dan arti dalam kehidupan mendatang
    Pada masa remaja, remaja berusaha melepaskan diri dari lingkungan dan ikatan dengan orang tua karna mereka ingin mencari identitas diri. Erikson mengatakan bahwa pada saat akan memasuki masa remaja, remaja akan di hadapkan pada pertanyaan yang sangat penting yaitu tentang “Siapa Aku?”. Pada saat bersamaan, ketika remaja merasakan ketidakpastian akan dirinya.  Lingkungan masyarakat sekitar mulai menanyakan sesuatu yang berkaitan dengan remaja. Misalnya, remaja sudah harus membuat langkah awal dalam menentukan karir, mereka sudah harus memikirkan bidang studi  yang sesuai sehingga dapat mempersiapkan untuk sebuah pekerjaan, dan lain sebagainya. Dengann demikian remaja harus berusaha menemukan  jawabannya baik untuk dirinya sendiri maupun untuk masyarakat sekitarnya. “Siapakah Aku?” adalah pernyataan mendasar tentang pengertian atau pemahaman diri (self definition) dan merupakan tugas perkembangan yang terpenting  pada masa remaja. Perubahan – perubahan yang diakibatkan terjadinya kematangan seksual dan tuntutan - tuntutan psikososial menempatkan remaja pada suatu pernyataan yang menurut Erikson disebut dengan krisis identitas, yaitu suatu tahap untuk membuat keputusan terhadap permasalahan-permasalahan penting yang berkaitan dengan pertanyaan tentang identitas dirinya. Untuk memperoleh jawaban tentang dirinya tersebut maka remaja harus menemukan siapakah dirinya, dia harus memperoleh suatu identitas diri. Keadaan tersebut cukup kompleks, karna melibatkan perkembangan beberapa aspek baik mental, emosional dan sosialnya. Oleh karna itu untuk mencapainya, remaja dihadapkan kepada tugas yang cukup sulit, Karna mereka harus mampu mengkoordinasikan berbagai hal untuk menyelesaikan krisis identitasnya. Remaja harus menemukan apa yang mereka yakini, sikap dan nilai-nilai idealnya, yang dapat memberikan suatu peran dalam kehidupan sosialnya. Karna ketika kita tahu tentang diri kita, kita tahu tentang apa yang kita lakukan, maka kita tahu akan peran kita dalam masyarakat. Apabila remaja memperoleh peran dalam masyarakat, maka dia akan mencapai sense of identity, menemukan identitas dirinya. Dia akan merasa bahwa dia mengetahui akan perannya, siapa dirinya dan tentang keyakinan dan ideologinya. Sebaliknya, apabila remaja tidak dapat menyelesaikan krisis identitasnyadengan baik, maka dia akan merasakan sense of role confusion or identity diffusion, yaitu suatu istilah yang menunjukan perasaan yang berhubungan dengan ketidak mampuan memperoleh peran dan menemukan diri. Beberapa kemungkinan dapat terjadi pada remaja yang mengalami krisis identitas, misalnya mereka dengan mudah menerima peran yang diberikan oleh masyarakat, misalnya bekerja pada perusahaan orang tua atau menikah untuk memperoleh suatu atau peran suami atau istri. Kemungkinan yang lain, remaja beranggapan akan lebih baik menjadi apa saja dari pada tidak mempunyai identitas diri sehingga mereka akan dengan mudah menerima peran yang tidak dapat di terima oleh masyarakat, karna tidak sesuai dengan nilai-nilai ideal dan tatanan kehidupan dalam masyarakat, yang oleh Erikson di sebut sebagai  Negative identity formation

b.    Sumber – Sumber Pembentukan Identitas Diri
    Sumber-sumber yang dapat mempengaruhi pembentukan identitas diri adalah lingkungan sosial, dimana remaja tumbuh dan berkembang, seperti keluarga dan tetangga yang merupakan lingkungan masa kecil, juga kelompok-kelompok yang terbentuk ketika mereka memasuki masa remaja, misalnya kelompok agama atau kelompok yang mendasarkan pada kesamaan minat tertentu. Kelompok-kelompok itu disebut sebagai reference group dan melalui kelompok tersebut remaja dapat memperoleh nilai-nilai dan peran yang dapat menjadi acuan bagi dirinya. Kelompok tersebut dapat membantu remaja untuk mengetahui dirinya dalam perbandingannya dengan orang lain sehingga mereka dapat membandingkan dirinya dengan kelompoknya, dengan nilaiyang ada pada dirinya dengan nilai-nilai dalam kelompok yang selanjutnya akan berpengaruh kepada pertimbangan-pertimbangan apakagh dia akan menerima atau menolak nilai-nilai yang  ada dalam kelompok tersebut.
    Selain reference group, dalam proses perkembangan identitas diri, sering di jumpai bahwa remaja mempunyai significant other yaitu seorang yang sangat berarti, seperti sahabat, guru, kakak, bintang olahraga atau bintang film atau siapapun yang dikagumi. Orang-orang tersebut menjadi tokoh ideal (idola) karena mempunyai nilai-nilai ideal bagi remaja dan mempunyai pengaruh yang cukup besar bagi perkembangan identitas diri, karena pada saat ini remaja sedang giat-giatnya mencari model. Tokoh ideal tersebut dijadikan model atau contoh dalam proses identifikasi. Remaja cenderung akan menganut dan menginternalisasikan nilai-nilai yang ada pada idolanya tersebut kedalam dirinya. Sehingga remaja sering berperilaku seperti tokoh idealnya dengan meniru sikap maupun prilakunya dan bahkan merasa seolah-olah menjadi seperti mereka.
    Remaja dalam kehidupan sosialnya selalu dihadapkan kepada berbagai peran yang ditawarkan oleh lingkungan keluarga maupun kelompok sebaya, yang kadang-kadang menimbulkan benturan-benturan, missalnya menjadi anggota kelompok musik tetapi juga harus menjadi siswa teladan. Maka dalam hal ini remaja harus mampu mengintegrasikan berbagai peran tersebut kedalam diri pribadi (identitas diri ) dan apabila terjadi benturan-benturan berbagai tuntutan peran dapat diselesaikan.

c.    Macam-Macam Keadaan Dalam Pembentukan Identitas Diri
    Berdasarkan pada teori  Erikson, terdapat empat keadaan atau status yang berbeda-b eda dalam pembentukan identitas. Dia berpendapat bahwa perkembangan identitas itu terjadi selain dari menncari aktif ( Eksplorasi ) yang oleh Erikson disebut sebagai krisis identitas, juga tergantung dari adanya commitments terdapat sejumlah pilihan-pilihan seperti sistem nilai atau rencana hari depan. Dalam proses perkembangan identitas maka seseorang dapat berada dalam status yang berbeda-beda. Keempat status tersebut :
a.    Diffussion status yaitu suatu keadaan dimana seseorang kehilangan arah, dia tidak melakukan eksplorasi dan tidak mempunya komitmen terhadap peran-peran tertentu sehingga mereka tidak dapat menemukan identitas dirinya. Mereka akan mudah menghindari persoalan dan cenderung mencari pemuasan dengan segera.
b.    Foreclosure status yaitu suatu keadaan dimana seseorang dapat menemukan diri dan menempunyai komitmen namun tanpa melalui eksplorasi terlebih dahulu. Mereka mempunyai pilihan-pilihan terhadap suatu pekerjaan, pandangan keagamaan atau ideologi namun tidak berdasarkan pertimbangan yang matang dan lebih ditentukan oleh orang tua ataupun gurunya.
c.    Moratorium status yaitu suatu keadaan yang menggambarkan seorang sedang sibuk-sibuknya mencari identitas diri, berada dalam keadaan untuk menemukan diri. Seseorang tidak membuat komitmen tertentu namun secara aktif mengeksplorasi sejumlah nilai, minat, ideologi dan pekerjaan dalam rangka mencari identitas dirinya.
d.    Identity achievement yaitu suatu keadaan dimana seseorang telah menemukan identitasnya dan membuat komitmen-komitmen setelah melalui eksplorasi terlebih dahulu.
Adams dan Gullotta (1983) menggambarkan tentang identitas sebagai berikut:
Identity is a complex psychological phenomenon. It might betjought of as the person in personality. It includes our own interpretation of early childhood identification with important individual in our lives. It includes a sense of direction, commitment, and trust in a personal ideal. A sense of identity integrates sex-role identification, individual ideology, accepted group norm and standars, and much more.
Dalam konteks psikologi perkembangan, pembentukan identita merupakan tugas utama dalam perkembangan kepribadian yang diharapkan tercapai pada akhir masa remaja. Meskipun tugas pembentukan identitas ini telah mempunyai akar-akar pada masa anak-anak, namun pada masa remaja ia menerima dimensi – demensi baru karena berhadapan dengan perunbahan-perubahan fisik, kognitif, dan reasioanal (Grotevant & Cooper, 1998). Selama masa remaja ini, kesadaran akan identitas menjadio lebih kuat, karena itu ia berusaha mencari identitas dan mendefinisikan kembali “siapakah” ia saat ini dan akan menjadi “siapakah” atau “apakah” ia pada masa yang akan datang. Perkembangan identitas selama masa remaja ini juga sangat penting karena ia memberikan sesuatu landasan bagi perkembangan psikososial dan relasi interpersonal pada masa dewasa (Jones & Hartmann, 1988).
Menurut Josselson, 1980 (dalam Seifert & Hoffnung, 1994), proses pencarian identitas proses dimana seseorang remaja mengembangkan suatu identitas personal atau sense of self yang unik, yang berbeda terpisah dari norang lain ini disebut dengan individuasi (individuation). Proses ini terdiri dari empat sub tahap yang berbeda, tetapi saling melengkapi, yaitu : deferensiasi, praktis,eksperementasi,penyesuaian,serta konsolidasi diri. Untuk lebih jelasnya masing-masing sub tahap ini, dapat dilihat dalam tabel berikut.
Sub-Tahap    Usia/Th.    Karakteristik
Diferentiation






Practice







Rapprochmet













consolidation    12-14






14-15







15-18













18-21    Remaja menyadari bahwa ia bebeda secara psikologis dari orang tuanya. Kesadaran ini sering membuatnya mempertanyakan dan menolak nialai – nilai dan nasehat-nasehat orang tuanya, sekalipun nilai-nilai dan nasehat tersebut masuk akal

Remaja percaya bahwa ia mengetahui segala-galanya dan dapat melakukan sesuatu tanpa salah. Ia menyangkal kebutuhan akan peringatan atau nasehat dan menantang orangtuanya pada setiap kesempatan. Kometmennya terhadap teman terhadap teman juga bertambah.

Karena kesedihan dan kehawatiran yang dialaminya, telah mendorong remaja remaja untuk menerima kembali sebagai otoritas orang tuanya, tetapi dengan bersyarat. Tingkah lakunya sering silih berganti antara eksperimentasi dan penyesuaian, kadang mereka menantang dan kadang berdamai dan bekerjasama dengan orang tua mereka. Di satu sisi ia menerima tanggung jawab disekitar rumah, namun disisi lain ia akan mendongkol ketika orang tuanya selalu mengontrol membatasi gerak-gerik dan aktivitasnya diluar rumah.

Remaja mengembangkan kesadaran akan identitas personal, yang menjadi dasar bagi pemahaman dirinya dan diri orang lain, serta untuk mempertahankan perasaan otonomi, idenpenden, dan individualitas.



Teori Psikososial Erikson
Erikson adalah salah seorang teoriisi ternama dalam bidang perkembangan rentang hidup. Salah satu sumbangannya yang terbesar dalam psikologi perkembangan adalah teori psikososial tentang perkembangan. Dalam teorinya ini, Erikson membagi perkembangan manusia berdasarkan kualitas ego dalam delapan tahap perkembangan. Kedelapan tahap perkembangan tersebut dapat dilihat dalam tabel berikut.
Tahap-tahap perkembangan psikososial Erikson
Tahap Psikososial    Usia kira-kira
Kepercayaan vs. Ketidakpercayaan (trust vs. Mistrust)

Otonomin vs. Rasa malu dan ragu-ragu ( Autonomy vs. Shame and doubt)

Inisiatif vs rasa bersalah (Initiative vs guilt)

Ketekunan vs rasa rendah diri (industry vs inferiority)

Identitas dan kebingungan peran (ego identity vs. Role confusion)

Keintiman vs. Isolasi
(generativity vs, isalation)

Generativitas vs stagnasi ( generativity vs. Stagnation)

Integritas ego vs. Keputusan
(Ego integrity vs despair)

    Lahir – 1 tahun ( masa bayi)


1-3 tahun ( masa kanak-kanak)


4-5 tahun ( masa pra-sekolah)

6-11 tahun ( masa sekolah dasar)


12-20 tahun  ( masa remaja)


20-24 tahun ( masa awal dewasa)


25-65 tahun  (masa pertengahan dewasa)


65 tahun-mati (masa akhir dewasa)
SUMBER: Diadaptsi dari Jerry & Phares (1987)
Masing-masing hidup terdiri dari tugas perkembangan yang khas, yang mengharuskan individu menghadapi suatu kritis. Krisis ini bagi erikson bukanlah suatu bencana, tetapi suatu titik balik peningkatan kerentaan dan peningkatan potensi, yang mempunyai kutup positif dan negatif. Semakin berhasil individu mengatasi krisis, akan semakin sehat perkembangannya (Santrock, 1995).
Dalam karya klasiknya yang berjudul Identity: Youth and Crisis (1996), terlihat bahwa dari kedelapan tahap perkembangan tersebut, Erikson, lebih memberi poenekanan pada identitas  vs. Kebingungan identitas (identity vs. Identity confusion), yang terjadi  selama masa remaja. Hal ini adalah karena tahap tersebut merupakan peralihan dari masa anak-anak ke masa dewasa. Peristiwa-peristiwa yang terjadi pada tahap ini sangat menentukan perkembangan kepribadian masa dewasa.
Selama masa ini, remaja dimulai memiliki suatu perasaan tentang identitasnya sendiri, suatu perasaan bahwa ia adalah manusia yang unik. Ia mulai menyadari sifat-sifat yang melekat pada dirinya, seperti kesukaan dan ketidak sukaanya, tujuan –tujuan yang diinginkan tercapai dimasa mendatang, kekuatan dan hasrat untuk mengintrol kehidupannya sendiri. Dihadapannya terbentang banyak peran baru dan status orang dewasa.
Akan tetapi , karena peralihan yang sulit dari masa anak-anak kemasa dewasa disatu pihak, dan kepekaan terhadap perubahan sosial dan historis dipihak lain, maka selama tahap pembentukan identitas ini seorang remaja  mungkin merasakan penderitaan paling dalam dibandingkan pada masa-masa lain akibat kekacauan peran-peran atau kekacauan identitas (identity confusion). Kondisi demikian menyebabkan remaja teresolasi, hampa, cemas, dan bimbang. Mereka sangat peka terhadap cara-cara orang lain memandang dirinya, dan menjadi mudah tersinggung dan merasa malu. Selama masa kekacauan identitas ini tingkah laku remaja tidak konsisten  dan tidak dapat diprediksikan. Pada suatu saat mungkin ia akan lebih tertutup terhadap siapapun, karena akibat takut ditolak, atau dikecerwakan. Namun pada tidak memperdulikan konsekuensi-konsekuensi dari kometmennya (Hall & Lindzey, 1993)
Berdasarkan kondisi demikian, maka menurut Erikson, salah satu tugas perkembangan selama masa remaja adalah menyelesaikan krisis identitas, sehingga diharapkan terbentuk suatu identitas diri yang stabil pada akhir masa remaja.  Remaja yang berhasil mencapai suatu identitas diri yang stabil, akan memperoleh suatu pandangan yang jelas tentang dirinya, memahami perbedaan dan persamaanya dengan orang lain, menyadari kelebihan dan kekurangan dirinya, penuh percaya diri, tanggap dalam berbagai situasi, maupun mengambil keputusan penting, maupun mengantisipasi tantangan masa depan, serta mengenal peran dalam masyarakat( Erikson, 1989). Kegagalan dalam mengatasi krisis identitas dan mencapai suatu identitas yang relatif stabil, akan sangat membahayakan masa depan remaja. Sebab, seluruh masa depan remaja sangat ditentukan oleh penyelesaian krisis tersebut.
Disamping itu, Erikson juga menyebutkan bahwa selama masa – masa sulit yang dialami remaja, ternya ia berusaha merumuskan dan mengembangkan nilai kesetiaan (komitmen), yaitu kemampuan untuk mempertahankan loyalitas yang diikrarkan dengan bebas meskipun terdapat kontradiksi-kontradiksi yang tak terelakkan di antara sistem-sistem nilai. Lebih jauh dijelaskannya bahwa komitmen merupakan fondasi yang menjadi landasan terbentukanya suatu perasaan identitas yang bersifat kpntinu. Substansi kkomitemen diperoleh melaluai konfirmasi oleh ideologi-ideologi dan kebenaran-kebenaran , serta juga melalui afirmasi dari kawan-kaawan. Perkembangan identitas berpangkal pada kebutuhan inheren manusia untuk merasa bahwa  dirinya termasuk dalam kelompok-kelompok tertentu , seperti kelompok etnik atau kelompok agama, dimana ia berpartisipasi dalam kegiatan adat istiadat, ritual-ritual, atau ideologi-ideologinya (Hall & Lindzey, 1993).
d.    Pandangan Kontemporer
Pandangan-pandangan kontemporer tentang pembentukan identitas pada prinsipnya merupakan elaborasi dari teori psikososial Erikson. Diantaranya yang paling terkenal adalah pandangan-pandangan James Marcia. Seperti hal Erikson, Marcia juga percaya bahwa pembentukan identitas merupakan tugas utama yang harus diselesaikan pada masa remaja. Dalam hal ini Marcia menulis: “The formation of an ego identity is major event in the development of personality. Occuring during late adolescence, the consolidation of identity marks the end of childhood and the beginning of adulthood, “ (Marcia, 1993).
Menurut marcia, pembentukan identitas ini memerlukan adanya dua elemen penting, yaitu eksplorasi (krisis) dan kometmen. Istilah “eksplorasi” menunjuk pada suatu masa dimana seseorang berusaha menjelajahi berbagai alternatif pilihan, yang pada akhirnya bisa menetapkan satu alternatif tertentu dan memberikan perhatian yang besar terhadap keyakinan dan nilai-nilai yang diperlukan dalam pemilihan alternatif tersebut. Sedangkan istilah “komitmen” menunjukkan pada usaha membuat keputusan mengenai pekerjaan atau ideologi, serta menentukan serta menentukan berbagai srategi untuk merealisasikan keputusan tersebut. Dengan perkataan lain, komitmen adalah keputusan untuk membuat alternatuf-alternatif tentang elemen-elemen identitas dan secara langsung aktivitas diarahkan pada implikasi dari alternatif-alternatuf ntersebut. Seseorang dikatakan memiliki kometmen bila elemen identitasnya berfungsi mengarahkan tindakannya, dan selanjutnya tidak membuat perubahan berarti terhadap elemen identitas tersebut (Marcia,1993).
Dalam suatu studi empirik tentang perkembangan identitas selama masa remaja yang didasarkan pada ide-ide Erikson, Marcia menginterviu aspek – aspek penting identitas pilihan pekerjaan, agama, dan sikap-sikap politik) dari siswa-siswa usia 8-22 tahun . berdasarkan hasil penelitiannya ini, Marcia mencatat bahwa pembentukan identitas merupakan suatu proses yang sulit dan penuh tantangan. Dalam hal ini, Marcia (1980), mengklasifikasikan siswa dalam 4 katagori status identitas yang didasarkan pada dua pertimbangan :
1.    Apakah mereka mengalami suatu krisis identitas atau tidak.
2.    Pada tingkat nama mereka memiliki komitmen terhadap pemilihan pekerjaan, agama, serta nilai-nilai politik dan keyakinan. Keempat katagori itu adalah:
Status 1: identity diffudion ( penyebaran identitas). Remaja belum mempunyai pengalaman dalam suatu krisis, tetapi telah menunjukkan sedikit perhatian atau komitmen terhadap pilihan pekerjaan, agama dan politik.
Status 2: identity foreclosure (pencabutan identitas). Remaja belum mempunyai pengalaman dalam suatu krisis, tetapi telah menunjukkan sedikierhatian atau komitmen terhadap pilihan pekerjaan, agama dan politik.
    Status 3:identity moratorium (penundaan identitas). Remaja dalam katagori ini tengah berada dalam krisis, secara aktif berjuang membentuk kometmen-kometmen dan meningkat perhatian terhadap hasil kompromi yang dicapai antara keputusan orang tua mereka, harapan-harapan masyarakat dan kemampuan-kemampuan mereka sendiri. Meskipun demikian, komitmen mereka hanya didefinisikan secara samar.
    Status 4: Identity achievement ( pencapaian identitas). Remaja dalam kelompok ini telah berpengalaman dan berhasil menyelesaikan suatu priode krisis mengenai nilai-nilai dan pilihan-pilihan hidup mereka. Mereka juga telah memiliki komitmen terhadap sebuah pekerjaan, agama dan politik yang didasarkan pada pertimbangan dari berbagai alternatif dan kebebasan relatif yang diberikan oleh orang tuanya. Keempat status identitas tersebut diringkas dalam tabel berikut.

Empat Status Identitas dari Marcia
Status Identitas
    Diffusion    Foreclosure    Moratorium    Achievement
Krisis kometmen periode dari masa remaja dimana status sering terjadi    Tidak ada
 ada
awal    Tidak ada
Ada
 Pertengahan    Ada
tidak ada pertengahan    Ada
Ada
Akhir

Proses pembentukan identitas tersebut menurut Marcia terjadi secara gradual sejak lahir, yakni sejak anak berinteraksi dengan ibu dan anggota keluarga lainya. Marcia juga mengidentifikasi beberapa variabel yang saling mempengaruhi dalam proses pembentukan identitas, yaitu:
1.    Tingkat identifikasi dengan orang tua sebelum dan selama masa remaja
2.    Gaya pengasuh orang tua
3.    Ada figure yang menjadi model
4.    Harapan sosial tentang pilihan identitas yang terdapat dalam keluarga, sekolah dan teman sebaya
5.    Tingkat keterbukaan individu terhadap berbagai alternatif identitas
6.    Tingkat kepribadian pada masa pra-adolesen yang memberikan sebuah landasan yang cocok untuk mengatasi masalah identitas (Marcia, 1993).


B.    Perkembangan psiko-sosial

1.    Tinjauan Terhadap Emosi, Identitas Diri Dan Moral
Remaja akhir kondisi emosinya tidak meledak-ledak lagi melainkan secara relatif telah stabil. Bila menghadapi objek yang menyenangkan atau tidak menyenangkan bersikap atas hasil memikirannya sendiri. Hal ini tidak berarti tak pernah bertengkar dengan orang lain. Bila terjadi bentrokan atas salah paham akan dihadapi dengan tenang dan teratur yang dibatasi oleh norma-norma orang dewasa terutama yang menyadari tokoh identitasnya.
Tokoh identitas itu diperoleh setahap demi setahap. Mula-mula remaja ingin mendapatkan pedoman hidup namun masih belum mengerti benar-benar pedoman mana yang akan dianut sesuai dengan sifat eksplorasinya akan menemukannya melaluai langkah-langkah, segai berikut.
a.    Apa yang didambakan dan dipuja mempunyai bentuk tertentu. Masa remaja dimulai dengan masa memuja atau mendewakan sesuatu.
b.    Selanjutnya objek yang dipuja makin jelas, adanya pribadi-pribadi pendukung nilai yaitu individu-individu tertentu misalnya: pangeran Diponegoro, Kartini, dan tokoh-tokoh nasional maupun internasional.
c.    Tahap selanjutnyabukan individu pendukung tetapi nilai-nilai ( yang mendukung)misalnya kejujurannya, keadilannya , kepahlawanannya. Nilai-nilai itu akan menjadi pegangan hidupnya.
Tahapan tersebut berjalan tidak sekilas saja melainkan mungkin sepanjang masa remaja bahkan baru dicapai dalam masa dewasa. Ercikson dalm Ny Singgih Gunarso dan Singgih Gunarso (1981:97) menulis masa remaja mempunyai tujuan utama dan seluruh perkembangan adalah pembentukan identitas diri, Ercikson menegaskan, untuk mengetahui identitas diri harus dapat mencari jawaban atas pertanyaan ini.
Who am I? Atau Siapakah Saya?
What am I? Atau Apakah Saya?
Where I belong to ? atau Dimanakah tempat saya?
Maka pengertian indentitas tidak mudah diterangkan . berikut ini temukan beberapa pendapat ahli sebagai berikut:
1.    Identitas diartikan suatu inti pribadi yang ada, walaupun mengalami perubahan bertahap dengan bertambahnya umur dan perubahan lingkungan.
2.    Identitas diartikan sebagai cara hidup tertentu yang sudah dibentuk pada masa-masa sebelumnya dan menentukan peran sosial yang harus dijalani.
3.    Identitas merupakan suatu hasil  yang diperoleh pada masa remaja tetapi masih akan mengalami perubahan dan pembaharuan.
4.    Identitas itu dialami sebagai suatu kelangsungan dalam dirinya dan dalam hubungan keluar dirinya.
5.    Identitas merupakan suatu penyelesaian peran sosial yang pada asasnya mengalami perubahan.
jadi  identitas itu merupakan persatuan yang terbentuk dari asas-asas, cara hidup , untuk mencapai perkembangan itu remaja mempunyai  tugas yang saling berhubungan, yaitu;
1.    Harus dapat melepaskan diri dari ikatan orang tua dan membentuk cara hidup pribadi yang dirasa ada keserasian atara kebutuhan diri dalam hubungan dengan orang lain.
2.    Harus menemukan suatu tempat  yang dapat menerimanya, dan memilih serta menjalankan peran sosial sesuai dengan tempat dimana ia berada.
Atas dasar itu remaja mendapat menjadi individu yang mandiri, namun tetap harus membina hubungan yang baik dengan lingkungannya.
Dalam masa remaja mengalami krisis identitas. Selama perkembangan mengalami kegoncangan karena perubahan dalam dirinya maupun dari luar dirinya, yaitu sikap orang tua,guru,cara mengajar,dan masih banyak lagi serta melepaskan diri dari orang tua dan bergabung dengan teman sebaya. Apa yang diperoleh dan dianut/dipatuhi menjadi goyah karena berkenalan dengan nilai-nilai baru. Jadi dalam pembentukan identitas diri mengalami kegoncangan yang disebut krisis identitas kejadian ini merupakan kejadian normal karena memungkinkan perkembangan yang luas. Krisis bersifat  sementara ditandai dengan kekuatan berlebihan dan menimbulkan konflik baru yang disalurkan dalam aktifitas yang konstruktif sehingga dapat digunakan untuk menyelesaikan masalah.
Krisis dikatakan tidak normal bila menimbulkan keinginan mempertahankan diri sehingga menuju kepengasingan diri atau menarik diri dari realita.
Sosialisasi dalam peer group para remaja akhir biasanya sudah mengendur namun telah tersedia berbagai organisasi sesuai dengan minat bakat masing-masing. Felly dan Andi Mappiare (1982:89) mengatakan bahwa dalam masa remaja seseorang mempersiapkan diri memasuki masa dewasa.
Dalam masa remaja akhir merupakan periode kritis atau citical eriod dalam berbagai hal yaitu : sosial,pribadi,dan moral. Perkembangan telah dimiliki sejak pada remaja awal akan dimantapkan menjadi dasar memandang diri dan lingkungan nya untuk masa selanjutnya. Untuk kemantapan itu sedikit banyak dipengaruhi keadaan lingkungan maupun pandangan nya terhadap kehidupan masyarakat. Demikian pula akhir yang pengaruh kuat lemahnya pribadi,citra diri, dan rasa percaya diri. Remaja akhir yang sedang memantapkan diri dan menghadapi lingkungan konkrit. Mereka bersikap kritis, sesuai dengan pertimbangan moral dan etnis mereka memungkinkan perlakuan moral dan etnis terhadap situasi itu adalah sebagai berikut:
Bagi remaja akhir yang bermasalah, yang menarik diri/wildrawal, mengikuti arus/hanyut dalam tatanan yang tidak memuaskan atau masyarakat kacau balau.
Bagi remaja yang mengalami perkembangan positif dapat memahami dan menerima tatanan yang ideal dan kenyataan, yaitu adanya kepincangan-kepincangan sosial. Berarti terjadi konsensus antara dalam diri dan lingkungan sosial, antara ideal dal realita. Pandangan positif itu akan menunjang kesehatan mental para remaja akhir.

2.    Perkembangan Kepribadian Remaja
    Dalam pembahasan mengenai remaja , sering terlihat adanya pemakaian istilah yang menunjukan masa atau fase kehidupan yang tidak sama. Demikian pula istilah asing yang berkaitan dengan masa yang akan di bahas ini, beranekaragam. Perkembangan psikososial berhubungan dengan berfungsinya seseorang dalam lingkungan sosial, yakni dengan melepaskan diri dari ketergantungan pada orang tua, pembentukan rencana hidup dan pembentukan sistema nilai-nilai.
    Istilah “adolescentia” juga berasal dari bahasa latin, “adolescentia”. Berbeda dengan pengertian “pubertas” yang berkaitan dengan tercapainya tanda kematangan fisik, “adolescentia “ dikaitkan dengan masa yang berbeda –beda.
    Dari kepustakaan belanda dapat disimpulkan bahwa adolescentia dimulai setelah tercapai kematangan  seksual secara biologis, sesudah pubertas. Jadi Adolescentia adalah masa perkembangan sesudah masa pubertas, yakni antara umur  17 tahun dan 22 tahun.
J. Piaget Memandang “Adolescentia” sebagai suatu fase hidup, dengan perubahan perubahan penting pada fungsi inteligensi, tercakup dalam perkembangan aspek kognitif.
Anna Freud menggambarkan masa adolesensia  sebagai suatu proses perkembangan meliputi perubahan-perubahan berhubungan dengan perkembangan psikoseksual, perubahan dalam hubungan dengan orang tua dan cita-cita mereka.
F. Neidhart Juga melihat masa adolescentia sebagai masa peralihan ditinjau dari kedudukan ketergantungannya dalam keluarga menuju ke kehidupan dengan menuju ke kehidupan dengan kedudukan “mandiri”.
E.H. Erikson mengemukakan timbulnya perasaan baru tentang identitas dari pada masa adolescentia. Terbentuknya gaya hidup tertentu sehubungan dengan penempatan dirinya, yang tetap dapat dikenal oleh lingkungannya walaupun mengalami perubahan pada dirinya maupun kehidupan sehari-hari.
Stanley Hall adalah ahli pertama yang memandang perlu masa remaja di selidiki secara khusus, dan mengumpulkan bahan empiris.
    Stanley Hall antara lain mengemukakan bahwa perkembangan psikis banyak dipengaruhi oleh faktor-faktor fisiologis. Faktor-faktor fisiologis ini di tentukan oleh genetika, disamping proses pematangan yang mengarahkan pertumbuhan dan perkembangan. Hal ini akan terlihat dimana saja, sehingga dapat disimpulkan kurang berperannya lingkungan sosial budaya. Sebaliknya, ia juga mengemukakan bahwa masa remaja merupakan masa penuh gejolak emosi dan ketidakseimbangan, yang tercakup dalam “storm and stress”, dengan demikian remaja mudah terkena pengaruh oleh lingkungan. Remaja diombang-ambingkan oleh munculnya :
1.    Kekecewaan dan penderitaan
2.    Meningkatnya konflik, pertentangan-pertentangan dan krisis penyesuaian
3.    Impian dan khayalan
4.    Pacaran dan percintaan
5.    Keterasingan dari kehidupan dewasa dan norma kebudayaan.
A.Bandura berpendapat bahwa masa remaja menjadi suatu masa pertentangan dan “pemberontakan” karna terlalu menitik beratkan ungkapan-ungkapan bebas dan ringan dari ketidakpatuhan seperti misalnya model gunting rambut dan pakaian yang nyentrik. Bacaan, film dan penerangan masa lainya sering menggambarkan para remaja sebagai kelompok yang tidak bertanggung jawab, memberontak, melawan dan prilaku mereka sering dinilai secara umum dengan kemungkinan berakibat sensasional. Sikap dan pandangan yang negatif terhadap remaja tidak menunjang  “pemunculan” sifat-sifat lebih baik, lebih dewasa dalam massa peralihan ini.
    Selanjutnya terlihat pula pandangan yang lebih mengutamakan lingkungan kebudayaan dalam peranannya pada perkembangan masa remaja, karna di dapatkannya berbagai ragam masa remaja sehubungan dengan kebudayaan yang berbeda pula. Pandangan ini terlalu menitikberatkan pengaruh kebudayaan, tanpa melihat adanya sebab yang universal. Semua perubahan fisik sesungguhnya berpangkal pada terbentuknya hormon seks dari kelenjar yang baru mulai bekerja pada masa ini. Akan tetapi pemunculan pola prilaku seksual berbeda, sesuai dengan kebudayaan masyarakat yang bersangkutan, karna lingkungan memegang peranan besar dalam perkembangan kepribadian, maka dapat dikatakan bahwa remaja belajar dari dalam lingkungan. Perkembangan merupakan suatu proses belajar sosial yang berkesinambungan. Sebagai hasil belajar dan pengalaman dari lingkungan, maka muncullah prilaku yang baru. Masyarakat dan lingkungan sekitar mempunyai harapan-harapan tertentu pada remaja. Melalui proses belajar sosial, remaja belajar memenuhi harapan dan tuntutan terhadapnya.
    Menyadari banyaknya tuntutan dan harapan lingkungan terhadap remaja,  E. Spranger mengemukakan bahwa pada masa ini remaja sangat memerlukan pengertian dari orang lain. Bantuan dapat diberikan melalui pemahaman tentang diri remaja.
    Harapan masyarakat terhadap remaja dapat dipenuhi melalui suatu proses bersinambungan dalam menjalankan tugas-tugas perkembangan. Sebagai hasil dari kerja timbal balik yang majemuk antara pertumbuhan dari dalam dan perangsangan dari lingkungan akan bermunculan serangkaian prilaku baru menuju tercapainya masa dewasa. Tergantungnya dari reaksi lingkungan dan pemahaman lingkungan terhadap munculnya perubahan-perubahan itulah, akan timbul atau tidak masalah bagiremaja.
Beberapa tugas perkembangan bagi remaja :
1.    Menerima keadaan fisiknya
2.    Memperoleh kebebasan emosional
3.    Mampu bergaul
4.    Menemukan model untuk identifikasi
5.    Mengetahui dan menerima kemampuan sendiri
6.    Memperkuat penguasaan diri atas dasar skala nilai dan norma
7.    Meninggalkan reaksi dan cara penyesuaian kekanak-kanakan.
Beberapa ciri khas remaja :
1.    Kecanggungan dalam pergaulan dan kekakuan dalam gerakan, sebagai akibat dari perkembangan fisik, menyebabkan timbulnya perasaan rendah diri. Kurangnya kemampuan dalam hal belajar, olah raga maupun ketrampilan lainnya, menambah perasaan rendah diri dan menghambat keinginan bergaul.Acap kali terlihat pula prilaku “berlebihan” (overacting) untuk menutupi perrasaan tersebut untuk menutupi  perasaan tersebut dan memenuhi kebutuhan bergaul.
2.    Ketidak seimbangan secara keseluruhan terutama keadaan emosi yang labil. Berubahnya emosionalitas, perubahannya suasana hati yang tidak dapat di ramalkan sebelumnya, menyulitkan orang lain mengadakan pendekatan. Labilitas remaja menyebabkan kurang tercapainya pengertian  orang lain akan diri pribadi remaja. Keadaan yang baru dialami remaja, juga menyebabkan remaja sendiri sering tidak mengerti dirinya sendiri. Suassana hati dimana remaja merasa dalam jurang, atau menghadapai jalan buntu maupun “kegelapan” memerlukan uluran tangan orang lain dengan penuh tanggung jawab, supaya remaja tidak terperosok lebih dalam, atau terjerumus dalam perbuatan “nekad”.
3.    Perombakan pandangan dan petunjuk hidup yang telah di perolah pada masa sebelumnya , meninggalkan perasaan kosong di dalam diri remaja. Remaja tidak menyadari sebab perasaan kosong tersebut, tetapi membuang kesempatan baik dengan cara mngosongkan diri dari hasil “didikan” orang tua. Ini tidak berarti bahwa remaja tidak bisa mengisi dirinya. Remaja dengan “kekosongannya” justru terbuka bagi pengaruh lain, baik dari pribaadi yang bertanggung jawab maupun yang tidak. Ciri remaja ini sering menyebabkan remaja menjadi “umpan” dan mangsa mereka yang tidak memiliki rasa tanggung jawab atas kesejahteraan orang lain.
4.    Sikap menentang dan menantang orang tua maupun orang dewasa lainnya merupakan ciri yang mewujudkan keinginan remaja untuk merenggangkan ikatannya dengan orang tua dan menunjukan ketidak tergantungannya kepada orang tua maupun orang dewasa lainnya. Usaha pendewasaan diri terungkap dari sikap menentang dan menantang sering menghambat tercapainya hubungan baik dengan keluarga dan menghambat pelancaran komunikasi antaraorang tua dan remaja.
5.    Pertentangan di dalam dirinya sering menjadi pangkal sebab pertentangan-pertentangan dengan orang  tua dan anggota keluarga lainnya. Disatu pihak remaja ingin melepaskan diri dari ketergantungannya kepada orang tua dan rasa aman keluarga, dilain pihak masih ingin mengecap perlindungan keluargadan di timang dalam kasih sayang orang tua. Di satu pihak inginmeninggalkan keluarga dan mencari pengalaman sendiri dengan hidup sendiri, tetapi dipihak lain merasa takut  bila mengingat konsekuensi dari langkah yang akan di ambilnya. Akhirnya remaja tidak tahu apa yang harus dilakukannya.
6.    Kegelisahan, keadaan tidak tenang menguasai diri remaja. Banyak hal diinginkan, tetapi remaja tidak sanggup memenuhi semuannya. Banyak cita-cita dan angan-angan, mungkin sampai setinggi langit, tentu tidak mungkin tercapai semuanya, keinginan yang tidak tercapai baik keinginan yang muluk-muluk maupun keinginan untuk melaksanakan kewajiban rutin yang belum terjangkau meninggalkan perasaan gelisah.
7.    Eksperimentasi, atau keinginan besar yang mendorong remaja mencoba dan melakukan segala kegiatan dan perbuatan orang dewasa, bisa di tampung melalui saluran-saluran ilmu pengetahuan. Eksperimentasi yang terbimbing secara konstruktif bisa menghasilkan pendalaman ilmu dan penemuanpengetahuan baru.
8.    Eksplorasi, kinginan untuk menjelajahi lingkungan alam sekitar sering disalurkan melalui penjelajahan alam, pendakian gunung dan terwujud dalam petualangan-petualangan. Eksplorasi yang di persiapkan dengan bekal pengetahuan untuk memperluas pengetahuan, perlu dikembangkan. Eksplorasi dan petualangan yang tidak di persiapkan secara masak bisa menimbulkan malapetaka. Misalnya, pendakian gunung tanpa perlengkapan dan pengetahuan mengenai daerah pegunungan tersebut mungkin menyebabkan terjebaknya remaja di tempat yang bergas racun.
9.    Banyaknya fantasi, khayalan dan bualan merupakan  ciri khas remaja. Banyak hal yang tidak mungkin tercapai, bisa tercapai dalam fantasi. Remaja yang berfantasi mengenai banyak pengagum yang mengajarnya, sesungguhnya dalam kesepiannya membuat cerita khayalan tersebut. Remaja menutupi prestasi belajar yang tidak memuaskan dirinya dengan membual tentang keberhasilan yang dilebih-lebihkan
10.    Kecenderungan membentuk kelompok dan kecenderungan kegiatan kelompok. Sering terlihat bahwa pembasmian kelompok (gang) sulit terlaksana.kebersamaan dan kegiatan berkelompok memberikan dorongan moril pada sesama remaja. Remaja memperoleh kekuatan dari keadaan bersama tersebut. Dalam hal ini perlu diperhatikan agar kemungkinan timbulnya kekuatan yang disalurkan secara negatif dan destruktif dapat di cegah dan selanjutnya menyalurkannya secara positif.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar