Kamis, 13 Desember 2012



NILAI, MORAL, DAN AGAMA

A.    PENGERTIAN NILAI, MORAL, DAN AGAMA
1.      Definisi Nilai
Nilai merupakan sesuatu yang diyakini kebenarannya dan mendorong orang untuk mewujudkannya. Nilai merupan sesuatu yang memungkinkan individu atau kelompok social membuat keputusan mengenai apa yang dibutuhkan atau sebagai suatu yang ingin dicapai (Horrocks, 1976).
Menurut Spranger, nilai diartikan sebagai suatu tatanan yang dijadikan panduan oleh individu untuk menimbang dan memilih alternative keputusan dalam situasi social tertentu (Sunaryo Kartadinata, 1988).
      Sparanger (Edwards, 1987) menggolongkan nilai ke dalam enam jenis, yaitu
a.       Nilai teori atau nilai keilmuan (I)
b.      Nilai ekonomi (E)
c.       Nilai sosial atau nilai solidaritas (Sd)
d.      Nilai agama (A)
e.       Nilai seni (S), dan
f.       Nilai politik atau nilai kuasa (K)
Nilai keilmuan (I) mendasari perbuatan seseorang atau sekelompok orang yang bekerja terutama atas dasar pertimbangan rasional. Nilai ini dipertentangkan dengan nilai agama (A), yaitu suatu nilai yang mendasari perbuatan seseorang atas dasar pertimbangan kepercayaan bahwa sesuatu itu dipandang benar menurut ajaran agama.
Nilai ekonomi (E) adalah suatu nilai yang mendasari perbuatan seseorang atau sekelompok orang atas dasar pertimbangan ada tidaknya keuntungan financial sebagai akibat dari perbuatannya itu. Nilai ini dikontraskan dengan nilai seni (S), yaitu suatu nilai yang mendasari perbuatan seseorang atau sekelompok orang atas dasar pertimbangan atas dasar keindahan atau rasa seni yang terlepas dari berbagai pertimbangan material.
Nilai solidaritas (Sd) adalah suatu nilai yang mendasari perbuatan seseorang terhadap orang lain tanpa menghiraukan akibat yang mungkin timbul terhadap dirinya sendiri, baik berupa keberuntungan atau ketidakberuntungan. Nilai ini dikontraskan dengan nilai kuasa (K), yaitu suatu nilai yang mendasari perbuatan seseorang atau sekelompok orang atas dasar pertimbangan baik buruknya untuk kepentingan dirinya atau kelompoknya.
Dari enam nilai tersebut, yang dominan dari masayarakat tradisional adalah nilai solidaritas, nilai agama,dan nilai seni (Sd-A-S), sedangkan pada masyarakat modern nilai yang dominan adalah nilai keilmuan, nilai ekonomi, dan nilai kuasa (I-E-K). sebagai konsekuensi dari proses pembangunan yang terus-menerus berlangsung, memungkinkan terjadinya pergeseran nilai-nilai tersebut. Dengan menggunakan model dinamik-interaktif, pergeseran nilai keilmuan dan nilai ekonomi (I-E) akan cenderung lebih cepat dibanding dengan nilai-nilai lainnya. Ini merupakan konsekuensi dari kebijakan pembangunan yang memberikan prioritas pada pembangunan ekonomi dan ditunjang oleh cepatnya perkembangan ilmu dan teknologi (Geriya dan Atmaja, 1985)
Remaja sebagai individu maupun komunitas masyarakat juga memiliki nilai-nilai sebagaimana disebutkan diatas. Dinamika maupun perkembangan juga konsisten sebagaimana dijelaskan oleh model dinamik-interaktif tersebut. Selain itu, juga tergantung pada kelompok masyarakat tradisional taukah modern para remaja itu berkembang.

2.      Definisi Moral
Istilah moral berasal dari kata Latin mores yang artinya tata cara dalam kehidupan, adat istiadat, atau kebiasaan (Gunarsa, 1986). Morala pada dasarnya merupakan rangkaian nilai tentang berbagai macam perilaku yang harus dipatuhi (Shaffer, 1979). Moral merupakan kaidah moral dan pranata yang mengatur perilaku individu dalam hubungannya dalam kelompok social dan masyarakat. Moral merupakan standar baik dan buruk yang ditentukan bagi individu oleh nilai-nilai social budaya di mana individu sebagai anggota social (Rogers, 1985).
      Tokoh yang paling dikenal dalam kaitannya dengan pengkajian perkembangan moral adalah Lawrence E. Kohlberg (1995).
Dalam pandangan Kohlberg, sebagaimana juga pandangan Jean Paget salah seorang yang sangat dikaguminya bahwa bwedasarkan penelitiannya, tampak bahwa anak-anak dan remaja menafsirkan segala tindakan dan perilaku sesuai dengan struktur mental mereka sendiri dan menilai dan menilai hubungan soail dan perbuatan tertentu sebagai adil atau tidak adil, baik atau buruk, juga seiring dengan tingkat perkembangan atau struktur moral mereka masing-masing.
      John Dewey yang kemudian dijabarkan oleh piaget(Kohlberg,1995) mengemukakan tiga tahap perkembangan moral.
a.       Tahap pramoral : ditandai bahwa anak belum menyadari keterikatannya pada aturan
b.      Tahap  Konvensional: ditandai dengan perkembangan kesadaran akan ketaatan pada kekuasaan.
c.       Tahap Otonom : ditandai dengan berkembangnya keterikatan pada aturan yang di dasarkan pada resiprositas.
Lawrence E. Kohlberg mengemukakan tingkatan dan tahap-tahap perkembangan moral,yaitu sebagai berikut.
    a. Tingkat prakonvensional,memiliki dua tahap,yaitu
Tahap 1 :orientasi hukuman dan kepatuhan,dan
Tahap 2:orientasi relativis- instrumental                    

b. Tingkat konvensional,memiliki dua tahap,yaitu
    Tahap 3 :Orientasi kesepakatan antara pribadi atau disebut orientasi “anak           manis”dan   
     Tahap 4: Orientasi hokum dan ketertiban
c.Tingkat pascakonvensional
Tahap 5:Orientasi kontrak social legalitas,dan
Tahap 6:Orientasi prinsip etika universal.



3.      Devinisi Agama
Dalam pembagian tahap perkembangan manusia, maka masa remaja menduduki tahap progressif. Dalam pembagian yang agak terurai masa remaja mencakup masa: Juvenilitas (adolescantium), pubertas dan nubilitas. Sejalan dengan perkembangan jasmani dan rohaninya, maka agama pada remaja ini menyangkut adanya perkembangan itu.
a.       Aspek Perkembangan
            Perkembangan agama pada remaja ditandai oleh beberapa faktor perkembangan rohani dan jasmaniya. Perkembangan itu antara lain menurut W. Strarbuck adalah:
1). Pertumbuhan pikiran dan mental : Ide dan dasar keyakinan beragama yang diterima remaja dari masa kanak-kanaknya sudah tidak begitu menarik bagi mereka.
2). Perkembangan perasaan : Perasaan sosial, ethis dan estetis mendorong remaja untuk menghayati prikehidupan yang terbiasa dalam lingkungan kehidupan agamis akan cenderung mendorong dirinya untuk lebih dekat ke arah hidup agamis.
3). Pertimbangan sosial : Corak keagamaan para remaja juga ditandai oleh adanya pertimbangan sosial.
4). Perkembangan moral : Perkembangan moral para remaja bertitik dari rasa berdosa dan usaha untuk mencari proteksi.
            b. Konflik dan Keraguan
Dari sampel yang diambil  W. Starbuck  terhadap mahasiswa Middleburg Colleg, tersimpul bahwa dari remaja usia 11-16 tahun terdapat: 53% dari 142 mahasiswa yang mengalami konflik dan keraguan tentang ajaran agama yang mereka terima, cara penerapan, keadaan lembaga keagamaan dan para pemuka agama.
Selanjutnya secra individu sering pula. Terjadi keraguan yang disebabkan beberapa hal antara lain mengenai:
a)      Kepercayaan, berupa ketuhanan dan implikasinya.
b)      Tempat Suci, pemulian dan pengagungan tempat-tempat suci agama.
c)      Alat perlengkapan keagamaan, fungsi salib dan rosario dalam kristen.
d)     Fungsi dan tugas staf dalam lembaga keagamaan
e)      Pemuka agama, Biarawan dan Biarawati, Pendeta, Ulama.
f)       Perbedaan aliran keagamaan, Sekte dalam agama kristen, mazhab dalam agama Islam.
Konflik ada beberapa macam antanya:
a)      Konflik yang terjadi sebagai antara percaya dan ragu.
b)      Konflik yang terjadi antara pemilihan satu diantara dua macam agama atau ide keagamaan serta lembaga keagamaan.
c)      Konflik yang terjadi oleh pemilihan antara ketaatan beragama dan sekularisme.
d)     Konflik yang terjadi antara melepaskan kebiasaan masa lalu dengan kehidupan keagamaan yang didasarkan atas petunjuk ilahi.

B.     HUBUNGAN ANTARA NILAI DAN MORAL
Nilai merupakan tatanan tertentu atau kriteria di dalam diri individu yang dijadikan dasar untuk mengevaluasi suatu sistem.Pertimbangan adalah penilaian individu terhadap suatu objek yang lebih berdasarkan pada sistem nilai tertentu daripada hanya sekedar karakteristik objek tersebut.Moral merupakan tatanan prilaku yang memuat nilai-nilai tertentu untuk dilakukan individu dalam hubungannya dengan individu,kelompok,atau masyarakat.
            Dengan demikian,dapat ditarik benang merah bahwa nilai merupakan dasar pertimbangan bagi individu untuk melakukan sesuatu,moral merupakan prilaku yang seharusnya dilakukan atau dihindari.

C.     KARAKTERISTIK NILAI DAN MORAL
Salah satu karakteristik remaja yang sangat menonjol berkaitan dengan nilai  adalah bahwa remaja sudah sangat merasakan pentingnya tata nilai dn mengembangkan nilai-nilai baru yang sangat diperlukan sebagai pedoman,pegangan,atau petunjuk dalam mencari jalannyasendiri untuk menumbuhkan identitas diri menuju kepribadian yang sangat matang (Sarwono, 1989).
Karakteristik yang menonjol dalam perkembangan moral remaja adalah bahwa sesuai dengan tingkat perkembangan kognisi yang mulai mencapai tahapan berpikir operasional formal,yaitu mulai mampu berpikir abstrak dan memecahkan masalah-masalah yang bersifat hipotetis maka pemikiran remaja terhadap suatu permasalah tidak lagi hanya terikat pada waktu, tempat, dan situasi, tetapi juga pada sumber moral yang menjadi dasar hidup mereka (Gunarsa, 1988).
D.    FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERKEMBANGAN NILAI DAN MORAL
Di dalam usaha membentuk tingkah laku sebagai pencerminan nilai-nilai hidup tertentu ternyata bahwa factor lingkungan memegang peran penting. Diantara segala unsur lingkungan social yang berpengaruh, yang tampaknya sangat penting adalah unsure lingkungan berbentuk manusia yang langsung dikenal atau dihadapi oleh seseorang sebagai perwujudan dari nilai-nilai tertentu. Dalam hal ini lingkungan social terdekat yang terutama terdiri dari mereka yang berfungsi sebagai pendidik dan Pembina. Makin jelas sikap dan sifat lingkungan terjadap nilai hidup tertentu dan moral makin kuat pula pengaruhnya untuk membentuk (meniadakan) tingkah l;aku yang sesuai.

E.     UPAYA PENGEMBANGAN NILAI, MORAL DAN AGAMA REMAJA SERTA IMPLIKASINYA DALAM PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN
Upaya pengembangan nilai dan moral juga diharapkan dapat dikembangkan secara efektif di lingkungan sekolah.Akhir-akhir ini,karena semakin,maraknya perilaku remaja yang kurang menjujung tinggi nilai-nilai moral dan sikap positif maka diberlakukan lagi pendidikan budi pekerti di sekolah.
Adapun upaya-upaya yang dapat dilakukan dalam mengembangkan nilai dan moral remaja adalah
a.      Menciptakan komunikasi
Hendaknya ada upaya untuk mengikut sertakan remaja dalam beberapa pembicaraan dan dalam pengambilan keputas keluarga, sedangkan dalam kelompok sebaya, remaja turut serta secara aktif dalam tanggung jawab dan penentuan maupun keputusan kelompok.
b.      Menciptakan iklim lingkungan yang serasi
Kerena lingkungan merupakan factor yang cukup luas dan sangat bervariasi, maka tampaknya yang perlu diperhatikan adalah lingkungan social terdekat yang terutama terdiri dari mereka yang berfungsi sebagai pendidik dan Pembina yaitu orang tua dan guru.
Para remaja sering bersikap kritis, menentang nilai-nilai dan dasar-dasar hidup orang tua dan orang dewasa lainnya. Mereka tetap menginginkan suatu sistem nilai yang akan menjadi pegangan dan petunjuk bagi perilaku mereka. Karena itu, orang tua dan guru serta orang dewasa lainnya perlu memberi contoh perilaku yang merupakan perwujudan nilai-nilai yang diperjuangkan.
Untuk remaja, moral merupakan suatu kebutuhan tersendiri oleh karena mereka sedang dalam keadaan membutuhkan pedoman atau petunjuk dalam rangka mencari jalannya sendiri. Pedoman ini juga untuk menumbuhkan identitas dirinya, menuju kepribadian yang matang dan menghindarkan diri dari konflik-konflik peran yang selalu terjadi dalam masa transisi ini.
Begitu juga nilai-nilai keagamaan perlu mendapat perhatian, karena agama juga mengajarkan tingkah laku yang baik dan buruk, sehingga psikologis berpedoman kepada agama termasuk dalam final.
Akhirnya perlu juga diperhatikan bahwa satu lingkungan yang lebih banyak bersifat mengajak, mengundang, atau member kesempatan, akan lebih efektif dari pada lingkungan yang ditandai dengan larangan-larangan yang serba membatasi.







F.       Perkembangan Jiwa Keagamaan Pada Remaja
Perkembangan rasa agama
Dalam tahap perkembangan manusia, maka remaja menduduki tahap progresif. Sejalan dengan perkembangan jasmani dan rohaninya, maka agama para remaja terhadap jaran agama dan tindak keagamaan yang Nampak pada remaja banyak berkaitan dengan faktor perkembangan tersebut.
         Perkembangan agama pada para remaja ditandai oleh beberapa faktor perkembangan jasmani dan rohaninya. Perkembangan itu menurut W.Starbuck adalah :
a.                   Pertumbuhan Pikiran dan Mental

Ide dan dasar keyakinan beragama yang diterima remaja dari masa kanak-kanaknya sudah tidak begitu menarik bagi mereka. Sifat kritis terhadap ajaran agama pun sudah mulai timbul. Dari hasil penelitian Allport, Gillesphy dan Young menunjukkan bahwa agama yang dianutnya bersifat lebih konservatif lebih banyak berpengaruh bagi para remaja untuk tetap taat pada ajaran agamanya. Sebaliknya, agama yang ajarannya kurang konservatif-dogmatis dan agak liberal akan mudah merangsang pengmbangan pikiran dan mental para remaja, sehingga mereka banyak meninggalkan ajaran agamanya. Ini menunjukkan bahwa perkembangan pikiran dan mental remaja mempengaruhi sikap keagamaan mereka.

b.      Perkembangan Perasaan

           Perasaan yang telah berkembang pada remaja, perasaan sosial,etis, dan estensis mendorng remaja untuk menghayati kehidupan dan terbiasa dengan lingkungannya. Kehidupan religious cenderung mendorong dirinya lebih dekat kea rah hidup yang religius pula. Sebaliknya, bagi remaja yang kurang mendapat pendidikan dan siraman ajaran agama akan lebih mudah dodominasi dorongan seksual. Masa remaja merupakan masa yang dodorong dengan kematangan seksual, serta perasaan yang ingin tahu dan perasaan super. Remaja akan lebih mudah terperosok kea rah tindakan seksual yang negatif.

c.       Pertimbangan Sosial

Corak keagamaan para remaja juga ditandai oleh adanya pertimbangan sosial. Dalam kehidupan keagamaan mereka timbul konflik antara pertimbangan moral dan material. Remaja sangat bingung menentukan pilihan itu, karena kehidupan duniawi leih dipengaruhi kepentingan akan materi, maka remaja cenderung jiwanya untuk bersikap materialis. Hasil penyelidikan Ernest Harms terhadap 1.789 remaja Amerika antara usia 18-29 tahun menunjukkan, bahwa 70% pemikiran remaja ditujukan bagi kepentingan: keuangan, kesejahteraan, kebahagiaan, kehormatan diri, dan masalah kesenangan pribadi lainnya. Sedangkan masalah agama hanya sekitar 3,6%.

d.      Perkembangan Moral

Perkembangan moral para remaja bertitik tolak dari rasa berdosa dan usaha untuk mencari proteksi. Tipe moral yang juga terlihat pada remaja mencakup:

1)      Sefl-directive, taat terhadap agama dan moral berdasarkan pertimbangan pribadi.
2)      Adaftive, mengikuti situasi lingkungan tanpa mengadakan kritik.
3)      Submissive, merasakan adanya keraguan terhadap ajaran moral dan agama.
4)      Unadjusted, belum menyakini akan kebenaran ajaran agama dan moral.
5)      Deviant, menolak dasar dan hokum keagamaan serta tatanan moral masyarakat.

e.       Sikap dan Minat

Sikap dan minat remaja terhadap masalah keagamaan boleh dikatakan sangat kecil dan hal ini tergantung dari keiasaan masa kecil serta lingkungan agama yang mempengaruhi mereka (besar kecil minatnya).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar