Sabtu, 15 Desember 2012

Perkembangan Psikologi



Pengertian Psikologi
A.     Arti Psikologi Secara Umum
Psikologi berasal dari perkataan Yunani psyche yang artinya jiwa, dan logos yang artinya ilmu pengetahuan. Jadi secara etimologi (menurut arti kata) psikologi artinya ilmu yang mempelajari tentang jiwa, baik mengenai macam-macam gejalanya, prosesnya maupun latar belakangnya.
Menurut Crow and Crow, psichology is the study of  human behavior and human relationship. Disini dijelaskan bahwa yang dipelajari oleh psikologi adalah tingkah laku manusia, yakni interaksi manusia dengan dunia sekitarnya, baik yang berupa manusia manusia lain ( human relationship ) maupun yng bukan manusia seperti hewan, iklim, kebudayaan, dan sebagainya.psikologi tidak hanya berhubungan dengan tingkah laku manusia saja.
Secara umum psikologi diartikan ilmu yang mempelajari tingkah laku manusia atau ilmu yang mempelajari gejala-gejala jiwa manusia karena para ahli jiwa mempunyai penekana yang berbeda-beda, maka definisi yang digunakan juga berbeda. Diantara pengertian yang dirumuskan oleh para ahli itu, antala lain sebagai berikut:

1.   Menurut Dr.Singgih Dirdagunarsa
Psikologi adalah ilmu yang mempelajari tentang tingkah laku manusia.
2.    Plato dan Aristoteles
 berpandapat bahwa psikologi ialah ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang hakikat jiwa hingga prosesnya sampai akhir.
3.    Jhon Broadus Watson
memandanng psikologi sebagai ilmu pengetahuan yang memepelajari tingkah laku tampak ( lahiriah ) dengan menggunakan metode observasi yang objektif terhadap rangsangan.
4.    Garden Murphy
Psikologi adalah ilmu yang mempelajari respons yang diberikan oleh makhluk hidup terhadap lingkungannya.
5.    Wilhelm Wudnt
Berpendapat bahwa psikologi merupakan ilmu pengetahuan yang mempelajari pengalaman-pengalaman yang timbul dalam diri manusia, seperti penggunaan pancaindera, pikiran, perasaan, dan kehendak.
Berbicara tentang hal jiwa, terlebih dahulu kita harus dapat membedakan antara nyawa dengan jiwa. Nyawa adalah daya jasmaniah yang keberadaannya bergantung pada hidup jasmani yang meninbulkan perbuatan badaniah yaitu perbuatan yang ditimbulkan oleh proses belajar. Misalnya : instink, refleks, nafsu, dan sebagainya. Jika jasmani mati, maka mati pulalah nyawanya.
Sedang  jiwa adalah daya hidup rohaniah yang bersifat abstrak, yang menjadi penggerak dan pengatur bagi sekalian perbuatan-perbuatan pribadi ( personal behavior ) dari hewan tingkat tinggi dan manusia. Perbuatan pribadi ialah perbuatan sebagai hasil proses belajar yang dimungkinkan oleh keadaan jasmani, rohani, sosial, dan lingkungan. Proses belajar ialah proses untuk meningkatkan kepribadian  (personality) dengan jalan berusaha mendapatkan pengertian baru, nilai-nilai dalam menghadapi kontradiksi- kontradiksi dalam hidup. Jadi, jiwa mengandung pengertian-pengertian, nilai-nilai kebudayaan, dan kecakapan-kecakapan.
Ada yang mengibaratkan bahwa jiwa dan daban itu sebagai burung dan sangkarnya. Burung itu diumpamakan jiwa, sedang sangkar adalah badannya. Bila burung itu terbang terus dan tidak kembali, maka matilah manusia itu.
Bila dibandingkan dengan ilmu-ilmu lain seperti: ilmu pasti, ilmu alam, dan lain-lain, maka ilmu jiwa dapat dikatakan sebagai ilmu pengetahuan yang serba kurang tegas, sebab ilmu ini mengalami perubahan, tumbuh, berkembang untuk mencapai kesempurnaan.
Karena sifatnya abstrak, maka kita tidak dapat mengetahui jiwa secara wajar, melainkan kita hanya dapat mengenal gejalanya saja. Jiwa adalah sesuatu yang tidak tampak, tidak dapat dilihat oleh alat diri kita. Demikian pula hakikat jiwa, tak seorang pun dapat mengetahuinya. Manusia dapat mengetahui jiwa seseorang dengan tingkah lakunya, jadi tingkah laku itu merupakan kenyataan jiwa dapat kita ketahui dari luar.
Pernyataan jiwa itu kita namakan gejala-gejala jiwa, diantaranya mengamati, menanggapi, mengingat, memikirkan, dan sebagainya. Dari itulah orang membuat definisi : ilmu jiwa yaitu ilmu yang mempelajari tingkah laku manusia.
Sebagai ilmu pengetahuan, psikologi juga memiliki sifat-sifat yang dimiliki ilmu pengetahuan pada umumnya. Karena itu, psikologi mempunyai:
a.    Objek tertentu
b.    Metode penyelidikan tertentu
c.    Sistematika yang teratur sebagai hasil pendekatan terhadap objeknya.
                                                                                               

B. Konsep Dasar  Belajar

1.  Pengertian Belajar
James O. Whittaker merumuskan belajar Belajar sebagai proses dimana tingkah laku ditimbulkan atau diubah melalui latihan atau pengalaman.
Cronbach berpendapat bahwa belajar adalah suatu aktivitas yang ditunjukkan oleh perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman.
Howard L. Kingskey mengatakan bahwa belajar adalah proses dimana tingkah laku(dalam arti luas) ditimbulkan atau diubah melalui praktek atau latihan.
Drs. Slameto juga merumuskan pengertian belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungan.
Akhirnya dapat disimpulkan bahwa belajar adalah serangkaian kegiatan jiwa raga untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman individu dalam interaksi dengan lingkungan yang menyangkut kognitif, afektif, dan psikomotor.

2. Hakikat Belajar
Hakikat belajar ini sangat penting diketahui untuk dijadikan pegangan dalam memahami secara mendalam dalam masalah bekajar. Dari sejumlah pengertian belajar yang telah diuraikan, ada kata yang sangat penting yakni kata “perubahan”. Perubahan yang dimaksud tentu saja perubahan yang sesuai denagan perubahan yang dikehanadaki oleh pengertian belajar. Perubahan yang terjadi akibat belajar adalah perubahan yang dengan aspek kejiwaan dan mempengaruhi tingkah laku. Sedangkan perubahan tingkah laku akibat mabauk karena meminum minuman keras, akaiabt gila, akibat tabrakan dan sebainya, bukan lah kategori belajar yang dimaksud.
Akhirnya, dapat disimpulkan bahwa hakikat belajar adalah perubahan dan tidak setiap perubahan adalah sebagai hasil belajar.





3. Ciri-ciri Belajar

Jika hakikat belajar adalah perubahan tingkah laku, maka ada beberapa perubahan tertentu yang dimasukan kedalam ciri-ciri belajar.
1.    Perubahan yang Terjadi Secara Sadar.
Ini berarti indivudu yang belajar akan menyadari terjadinya perubahan itu atau sekurang-kurangnya individu merasakan telah terjadi adanya suatu perubahan dalam dirinya.
2.    Perubahan dalam Belajar Bersifat Fungsional.
Sebagai hasil belajar, perubahan yang terjadi dalam diri individu berlangsung terus menerus dan tidak statis. Suatu perubahan yang terjadi akan menyebabkan perubahab berikutnya dan akan berguna bagi kehidupan ataupun proses belajar berikutnya.
3.    Perubahan dalam Belajar Bersifat Positif dan Aktif.
Dalam perbuatan belajar, perubahan-perubahan itu selalu bertambah dan tertuju untuk memperoleh suatu yang lebih baik dari sebelumnya. Perubahan yang bersifat aktif artinya bahwa perubahan itu tidak terjadi dengan sendirinya, melaikan karena usha individu sendiri.
4.    Perubahan dalam Belajar Bukan Bersifat Sementara.
Perubahan yang bersifat sementara (temporer) yang terjadi hanya untuk beberapa saat saja, seperti berkeringat, keluaga air mata, dan sebagainya, tidak dapat digolongkan sebagai perubahan. Peruubah yang terjadi karena proses balajar bersifat menetap atau permanen. Ini berarti bahawa tingkah laku yang terjadi setelah belajar akan bersifat menetap. Misalnya, kecakapan pada seorang anak dalam memainkan piano setelah belajar, tidak akan hilang, melaikan akan terus dimiliki dan bahkan makin berkembang bila terus dipergunakan atau dialattih.
5.    Perubahan dalam Belajar Bertujuan atau Berarah.
Ini berarti bahwa perubahan tingkah laku itu terjadi karena ada tujuan yang akan dicapai. Perubahan belajar terarah pada perubahab tingkah laku yang benar-benar disadari. Dengan demikian, perbuatan belajar yang dilakukan senantiasa terarah pada tingkah laku yang telah ditetapakan.
6.    Perubahan Mencakup Seluruh Aspek Tingkah Laku.
Jika seseorang belajar sesuatu, sebagai hasilnya ia akan mengalami perubahan tingkah laku secara menyeluruh dalam sikap kebiasaan, keterampilan, pengetahuan, dan sebagainya.

4. Teori-Teori Belajar

1.    Teori Belajar Menurut Ilmu Jiwa Daya

Ahli-ahli ilmu jiwa daya mengemukakan suatu teori bahwa jiwa manusia mempunyai daya-daya. Daya-daya ini adalah kekuatan yang tersedia. Manusia hanya memanfaatkan semua daya itu dengan cara melatihnya sehingga ketajamannya dirasakan ketika dipergunakan untuk sesuatu hal.

Akibat dari teori ini, maka belajar hanyalah melatih semua daya itu. Untuk melatih daya ingat seseorang harus melakukannya dengan cara menghafal kata-kata atau angka, istilah-istilah asing, dan sebagainya. Pengaruh teori ini dalam belajar adalah ilmu pengetahuan yang didapat hanyalah bersifat hafalan-hafalan belaka.

Oleh karena itu, menurut para ahli ilmu jiwa daya, bila ingin berhasil dalam belajar, latihlah semua daya yang ada didalam diri.

2.    Teori Tanggapan

  Teori tanggapan adalah suatu teori belajar yang menentang teori belajar yang dikemukakan oleh ilmu jiwa daya. Menurut Herbart teori yang dikedepankan oleh ilmu jiwa daya tidak ilmiah, sebab psikologi daya tidak dapat menerangkan kehidupan jiwa. Menurutnya unsur jiwa yang paling sederhana adalah tanggapan.
Menurut ilmu tanggapan belajar adalah memasukkan tanggapan sebanyak-banyaknya, berulang-ulang, dan sejelas-jelasnya. Banyak tanggapan dikatakan pandai. Sedikit tanggapan berarti kurang pandai.

3.    Teori Belajar Menurut Ilmu Jiwa Gestalt

Gestalt adalah sebuah teori belajar yang dikemukakan oleh Koffka dan Kohler dari Jerman. Teori ini bepandangan bahwa keseluruhan lebih penting dari bagian-bagian. Sebab keberadaan bagian-bagian itu didahului oleh keseluruhan.
Dalam belajar, menurut teori Gestalt, yang terpenting adalah penyesuaian pertama, yaitu mendapatkan respons atau tanggapan yang tepat. Belajar yang terpenting bukan mengulangi hal-hal yang harus dipelajari, tetapi mengerti atau memperoleh insight. Belajar dengan pengertian lebih dipentingkan daripada hanya memasukkan sejumlah kesan. Belajar dengan insight (pengertian) adalah sebagai berikut :

a.    Insight tergantung dari kemampuan dasar.
b.    Insight tergantung dari pengalaman masa lampau yang relevan (dengan apa yang dipelajari)
c.    Insight hanya timbul apabila situasi belajar diatur sedemikian rupa, sehingga segala aspek yang perlu diamati.
d.    Insight adalah hal yang harus dicari, tidak dapat jatuh dari langit.
e.    Belajar dengan insight dapat diulangi.
f.     Insight sekali didapat dapat digunakan untuk menghadapi situasi-situasi yang baru.

Prinsip-prinsip belajar menurut geshalt :
a.    Belajar berdasarkan keseluruhan
b.    Belajar adalah suatu proses prkembangan
c.    Anak didik sebagai organisme keseluruhan.
d.    Terjadi transfer
e.    Belajar adalah reorganisasi pengalaman
f.     Belajar harus dengan insight
g.    Belajar lebih berhasil bila berhubungan dengan minat, keinginan, tujuan.
h.    Belajar berlangsung terus-menerus.






4. Teori Belajar dari R. Gagne
Gagne mengatakan bahwa  segala sesuatu yang dipelajari oleh manusia dapat dibagi menjadi lima kategori yang disebut  the domainds of learning, yaitu sebagai berikut
a. Keterampilan motoris
Dalam hal ini perlu koordinasi dari berbagai gerakan badan, misalnya melempar bola mengemudi mobil dan sebagainya.
b. Informasi Verbal
Orang dapat menjelaskan sesuatu dengan berbicara, menulis, menggambar ; dalam hal ini dapat dimengerti bahwa untuk mengatakan sesuatu itu perlu intelagensi.
c. Kemampuan Intelektual
Manusia mengadakan interaksi dengan dunia luar dengan menggunakan simbol-simbol. Kemampuan belajar dengan cara inilah yang disebut kemampuan “intelektual”.
d. Strategi Kognitif
Merupakan organisasi keterampilan yang internal  yang perlu untuk belajar mengingat dan berpikir. Kemampuan ini berbeda dengan kemampuan intelektual, karena ditujukan ke dunia luar, dan tidak dapat dipelajari hanya dengan berbuat satu kali serta memerlukan perbaikan-perbaikan terus menerus.
e. sikap
Kemampuan ini tidak dapat dipelajari dengan ulangan-ulangan, tidak tergantung atau dipengaruhi oleh hubungan verbal. Sikap ini penting dalam proses belajar ; tanpa kemampuan ini belajar tak akan berhasil dengan baik.


5. Teori belajar menurut ilmu jiwa asosiasi
Teori asosiasi disebut juga teori sarbond. Sarbond singkatan dari stimulus, respons, dan bond. Stimulus berarti rangsangan, respon berarti tanggapan, dan bond berarti dihubungkan. Rangsangan diciptakan untuk memunculkan tanggapan kemudian dihubungkan antara keduanya dan terjadilah asosiasi.
Teori asosiasi berprinsip bahwa keseluruhan itu sebenarnya terdiri dari penjumlahan bagian-bagian atau unsur-unsurnya. Penyatupaduan bagian-bagian melahirkan konsep keseluruhan.
Dari aliran ilmu jiwa asosiasi ada dua teori yang sangat terkenal, yaitu teori konektionisme dari Therndike dan teori conditioning dari Ivan P. Pavlov.
a.    Teori konektionisme
Thorndike menyimpulkan bahwa respon lepas dari kurungan itu lambat laun diasosiasikan dengan situasi stimulus dalam belajar coba-coba, trial and error. Teori ini juga dikenal dengan nama kondisioning instromental, karena pemilihan suatu respon itu merupakan alat atau instrumen bagi memperoleh ganjaran.
Ada tiga hukum belajar yang utama dan ini diturunkannya dari hasil-hasil penelitiannya.
1.    Hukum efek
Hukum ini menyebutkan bahwa keadaan memuaskan menyusul respon memperkuat pautan antara stimulus dan tingkah laku. Sedangkan keadaan yang menjengkelkan memperlemah pautan itu.
2.    Hukum latihan
Hukum ini menjelaskan keadaan seperti dikatan pepatah “ latihan menjadi sempurna “. Dengan kata lain pengalaman yang diulang-ulang akan memperbesar peluang timbulnya respon (tanggapan) yang benar. Tetapi pengulangan yang tidak disertai keadaan yang memuaskan tidak akan meningkatkan belajar.
3.    Hukum kesiapan
Hukum ini melukiskan syarat-syarat yang menentukan keadaan-keadaan yang disebut “ memuaskan “ , atau “ menjengkelkan “ itu. Pelaksanaan tindakan sebagai respon terhadap suatu inpuls yang kuat menimbulkan kepuasan, sedangkan menghalang-halangi pelaksanaan tindakan atau memaksanya menimbulkan kejengkelan. Jadi menurut Thorndike dasar dari belajar tidak lain adalah asosiasi antara kesan panca indera dengan impuls untuk bertindak. Sama maknanya dengan belajar.


5. Jenis-jenis Belajar
a.    Belajar Arti Kata-Kata
Belajar arti kata-kata adalah dimana seseorang mulai menangkap arti yang terkandung dalam kata-kata yang digunakan.  Pada mulanya suatu kata sudah kenal akan tetapi belum tahu artinya.

b.    Belajar Kognitif
Dalam belajar kognitif,objek objek yang di tanggapi tidak hanya yang bersifat materiil,tetapi juga yang bersipat tidak materiil.bila tanggapan berupa objek objek materiil dan tidak materiil telah dimiliki,maka seseorang mempunyai alam pikiran kognitip.itu be arti semakin banyak pikiran dan gagasan yang dimiliki,semakin kaya dan luaslah alam pikiran kognitif itu.
Belajar kognitif penting dalam belajar.Dalam belajar,seseorang tidak bisa melepas kan diri dari kegiatan belajar kognitif. Mana bisa kegiatan mental tidak berproses ketika memberikan tanggapan terhadap objek-objek yang di amati.Sedangkan belajar itu sendiri adalah proses mental yang bergerak ke arah perubahan.

c.    Belajar Menghafal
Belajar menghafal adalah suatu aktifitas menanamkan suatu materi verbal di dalam ingatan, sehingga nantinya dapat diproduksikan(diingat) kembali secara harfiah, sesuai dengan materi yang asli.
Dalam mengahafal, ada beberapa syarat yang perlu diperhatikan, yaitu mengenai tujuan, pengertian perhatian, dan ingatan. Efektif tidaknya dalam menghafal dipengaruhi oleh syarat-syarat tersebut.

d.    Belajar Teoretis
Bentuk belajar ini bertujuan untuk menempatkan semua data dan fakta(pengetahuan) dalam suatu kerangka organisasi mental, sehingga dapat dipahami dan digunakan untuk memecahkan problem, seperti terjadi dalam bidang-bidang studi ilmiah.

e.    Belajar Konsep
Konsep atau pengertian adalah satuan arti yang mewakili sejumlah objek yang mempunyai ciri-ciri yang sama. Orang yang memiliki konsep mampu mengadakan abstraksi terhadap objek-objek yang dihadapi. Dalam bentuk belajar ini, orang mengadakan abstraksi, yaitu dalam objek-objek yang meliputi benda, kejadian dan orang, hanya ditinjau pada aspek-aspek tertentu saja.
Konsep dibedakan atas kobsep konkret dan konsep yang harus didefinisikan. Konsep konkret adalah pengertian yang menunjuk pada objek-objek dalam lingkungan fisik. Konsep yang didefinisikan adalah konsep yang mewakili realitas hidup, tetapi tidak langsung menunjukkan pada realitas dalam lingkungan hidup fisik, karena realitas itu tidak berbadan.
Akhirnya, belajar konsep adalah berpikir dalam konsep dan belajar pengertian.

f.     Belajar Kaidah
Belajar kaidah(rule) termasuk dari jenis belajar kemahiran intelektual, yang dikemukakan oleh Gagne. Belajar kaidah adalah bila dua konsep atau lebih dihubungkan satu sama lain, terbentuk suatu ketentuan yang merepresentasikan suatu keteraturan. Kaidah adalah suatu pegangan yang tidak dapat diubah-ubah. Kaidah merupakan suatu gambaran mental dari kenyataan hidup dan sangat berguna dalam mengatur kehidupan sehari-hari.

g.    Belajar Berpikir
Belajar berpikir, orang dihadapkan pada suatu masalah yang harus dipecahkan, tetapi tanpa melalui pengamatan dan reorganisasi dalam pengamatan. Masalah harus dipecahkan melalui operasi mental khususnya menggunakan  konsep dan kaidah serta metode-metode bekerja tertentu. Pemecahan atas masalah itulah yang memerlukan pemikiran. Berpkir itu sendiri adalah kemampuan jiwa untuk meletakkan hubungan antara bagian-bagian pengetahuan.
h.    Belajar Keterampilan Motorik
Orang  yang memiliki suatu keterampilan motorik, mampu melakukan suatu rangkaian gerak-gerik jasmani dalam urutan tertentu, dengan mengadakan koordinasi antara gerak-gerik berbagai anggota badan secara terpadu. Keterampilan  semacam ini disebut “motorik”, karena otot, urat dan persendian terlibat secara langsung, sehingga keterampilan sungguh-sungguh berakar dalam kejasmanian.
i.      Belajar Estetis
Bentuk belajar ini bertujuan membentuk kemampuan menciptakan dan menghayati keindahan dalam berbagai bidang kesenian.

6. Aktivitas –Aktivitas Belajar
a.    Mendengarkan
Mendengarkan adalah salah satu aktivitas belajar. Setiap orang yang belajar di sekolah pasti ada akivitas mendengarkannya. Ketika seorang guru menggunakan metode ceramah, maka setiap siswa atau mahasiswa diharuskan mendegnarkan apa yang guru(dosen) sampaikan.
Dalam mendengarkan apa yang diceramahkan itu tidak dibenarkan adanya hal-hal yang mengganggu jalannya ceramah. Karena hal itu bisa mengganggu konsentrasi belajar.Tidak dapat di sangkal bahwa aktivitas mendengarkan adalah aktivitas belajar yang diakui kebenarannya dalam dunia pendidikan dan pengajaran dalam pendidikan formal per sekolahan, ataupun non formal. Apabila dalam kerangka pemerataan pendidikan, maka anak-anak tuna rungu perlu diperhatikan secara intensif agar tidak ada lagi penyakit kebodohan.
b.    Memandang
Memandang adalah mengarahkan pengamatan kesuatu objek. Aktivitas memandang berhubungan erat dengan mata. Karena dalam memandang itu matalah yang memegang peranan penting. Tanpa mata tidak mungkin terjadi aktivitas memandang dapat dilakukan. Orang buta pasti tidak dapat melihat maka dia tidak bida memandang sesuatu yang menjadi kebutuhannya.
Tapi perlu diingat bahwa tidak semua aktivitas memandang berarti belajar. Aktivitas memandang dalam arti belajar di sini aktivitas memandang yang bertujuan sesuai dengan kebutuhan untuk mengadakan perubahan tingkah laku yang positif.
c.    Meraba, Membau, dan Mencicipi/mengecap
Aktivitas meraba, membau, dan mengecap artinya dapat memberikan kesempatan bagi seseorang untuk belajar. Tentu saja aktivitas ini harus disadari oleh suatu tujuan. Aktivitas ini harus didorong oleh kebutuhan, motivasi untuk mencapai tujuan dengan menggunakan situasi tertentu untuk memperoleh perubahan tingkah laku.
d.    Menulis atau mencatat
Menulis atau mencatat adalah kegiatan yang tidak terpisahkan dari aktivitas belajar. Setiap orang mempunyai cara tertentu dalam mencatat pelajaran. Demikian juga dalam hal memilih pokok-pokok pikiran yang dianggap penting. Hal ini disebabkan ilmu pengetahuan yang dimiliki seseorang itu berbeda-beda, sehingga berbeda pula dalam menilai bahan yang akan dicatat. Perlu diketahui bahwa tidak setiap mencatat adalah belajar. Aktivitas belajar yang bersifat menurut, menciplak atau mengcopy tidak dapat dikatakan sebagai aktivitas belajar. Mencatat yang termasuk sebagai aktivitas belajar yaitu apabila dalam mencata itu orang menyadari kebutuhan dan tujuannya, serta menggunakan seperangkat tertentu agar catatan itu nantinya berguna bagi pencapaian tujuan belajar.



e.    Membaca
Aktivitas membaca adalah aktivitas yang paling banyak dilakukan selama belajar disekolah atau diperguruan tinggi. Kalau belajar adalah untuk mendapatkan ilmu pengetahuan, maka membaca adalah jalan menuju kepintu ilmu pengetahuan ini berarti untuk mendapatkan ilmu pengetahuan tidak ada cara lain yang harus dilakukan kecuali memperbanyak membaca. Kalau begitu membaca identik dengan mencari ilmu pengetahuan agar menjadi cerdas, dan mengabaikannya berarti kebodohan.
f.     Membuat Ringkasan atau Menggarisbawahi
Ringkasan memang sangat membantu dalam hal mengingat atau mencari kembali materi dalam buku untuk masa-masa yang akan datang.
Sementara membaca pada hal-hal yang penting perlu diberi garis bawah. Hal ini sangat membantu dalam usaha menemukan kembali materi itu di kemudian hari, bila diperlukan.
g.    Mengamati Tabel-Tabel, Diagram –Diagram dan Bagan-Bagan
Sebuah tabel, diagram, dan bagan dihadirkan di buku tidak lain adalah dalam rangka memperjelas jelasan, yang penulis uraikan. Penulis sadar bahwa penjesan yang dibuat tidak dapat memberikan gambaran kesan yang baik bila tidak dbantu dengan menghadirkan tabel digram,tabel,bagan. Dengan menghadirkan tabel, diagaram, atau bagan dapat menembuhkan pengertian dalam waktu yang relatif singkat. Tabel, diagram atau bagan biasanya diletakan tidak jauh dari tulisan yang dibuat oleh penulis buku. Oleh karena itu, masalah tabel, diagaram, atau bagan ini jangan di abaikan untuk diamati, karena ada hal-hal tertentu yang tidak termasuk dalam penjelasan melalui tulisan.
h.    Menyusun paper atau kertas kerja
Dalam menyusun paper tidak bisa sembarangan, tetapi harus metodologis dan sistemaris. Metodelogis artinya menggunakn metode-metode tertentu dalam menggarapannya. Sistematis artinya menggunakan kerangka berpikir yang logis dan kronologis.
i.      Mengingat
Mengingat merupakan gejala psikologis untuk mengetahui bahwa seseorang sedang mengingat sesuatu, dapat dilihat dari sikap dan perbuatannya. Perbuatan mengingat dilakukan bila seseorang sedang mengingat-ngingat kesan yang telah tipunyai. Ingatan itu sendiri adalah kemampuan jiwa untuk memasukan, menyimpan dan menimbulkan kembali hal-hal yang telah lampau.
Ingatan atau (memory) ingatan seseorang dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu sifat seseorang alam sekitar keadaan jasmani, keadaan rohani (jiwa, dan umur seseorang).
j.      Berpikir
Berpikir adalah termasuk aktivitas dalam belajar. Dengan berpikir orang memporoleh penemuan baru, setidak-tidaknya orang menjadi tau tenteng hubungan sesuatu. Berpkir bukanlah sembarang berpikir, tetapi ada tarap tertentu, dari taraf berpikir yang rendah sampai taraf berpikir yang tinggi. Lebih jelas mengenai hal ini dapat dilihat kembali pembahasan mengenai jenis-jenis belajar, yang membicarakan masalah belajar berpikir. Dan pembicraan mengenai masalah aktivitas berpikir ini hingga disini, dengan pertimbangan dapat dibaca pada pembahasan mengenai belajar berpikir didepan.
k.    Latihan atau praktek
Learning by doing adalah konsep belajar yang menghendaki adanya penyatuan usaha mendapatkan kesan-kesan dengan cara berbuat belajar sambil berbuat dalam hal ini termasuk latihan. Latihan termasuk cara yang baik untuk memperkuat ingatan. Dengan banyak latihan kesan-kesan yang diterima lebih uingsional. Dengan demikian, aktivitas latihan dapat mendukung belajar yang optimal.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar