Kamis, 13 Desember 2012

Perkembangan Psikososial

A.    Perkembangan Psikososial       
Selama masa remaja terjadi perubahan – perubahan yang dramatis, baik dalam fisik maupun kognitif. Perubahan-perubahan secara fisik dan kognitif tersebut, ternyata berpengaruh terhadap perubahan dalam perkembangan psikososial mereka. Dalam uraian berikut, kita akan membahas beberapa aspek perkembangan psikososial yang penting  selama masa remaja.
1.    Perkembangan individuasi dan identitas
Masing-masing kita memiliki ide tentang identitas diri sendiri. Meskipun demikian, untuk merumuskan sebuah definisi yang memadai tentang identitas itu tidaklah meudah. Hal ini adalah karena identitas masing0masing orang merupakan suatu hal yang kompleks, yang mencakup banyak kualitas dan dimensi yang berbeda-beda, yang lebih ditentukan oleh pengalaman subjektif daripada pengalaman objektif, serta berkembang atas dasar ekplorasi sepanjang proses kehidupan (Dusek, 1991).
Dalam psikologi, konsep identitas pada umumnya merujuk kepada suatu kesadaran akan kesatuan dan kesatuan dan kesinambungan pribadi, serta keyakinan yang relatif stabil sepanjang rentang kehidupan, sekalipun terjadi beberapa perubahan. Menurut Erekson (dalam Cremers, 1989) seseorang yang sedang mencari identitas akan berusaha “menjadi seseorang”, yang berarti berusaha mengalami diri sendiri sebagai “aku” yang bersifat sentral, mandiri, unik, yang mempunyai suatu kesadaran akan kesatuan batinnya, sekaligus juga berarti menjadi “seseorang” yang diterima dan diakui oleh orang banyak . lebih jauh dijelaskannya bahwa orang yang sedang mencari identitas adalah orang yang inginkanya pada masa men “Siapakah” atau “Apakah” yang diinginkannya pada masa mendatang . bila mereka telah memperoleh identitas , maka ia kan menyadari ciri-ciri khas pribadinya, seperti kesukaan atau ketidaksukaannya, aspirasi, tujuan masa depan yang diantisipasi, perasaan bahwa ia dapat dan harus mengatur orientasi hidupnya.


a.    Pembentukan Identitas Diri
Proses pembentukan identitas diri adalah merupakan proses yang panjang dan kompleks, yang membutuhkan kontinuitas dari masa lalu, sekarang dan masa yang akan datang dari kehidupan individu, dan hal ini akan membentuk krangka berpikir untuk mengorganisasikan dan mengintegrasikan prilaku ke dalam berbagai bidang kehidupan. Dengan demikian individu dapat menerima dan menyatakan kecenderungan pribadi, bakat dan peran – peran yang di berikan baik oleh orang tua, teman sebaya maupun masyarakat dan pada akhirnya dapat memberikanarah tujuan dan arti dalam kehidupan mendatang
    Pada masa remaja, remaja berusaha melepaskan diri dari lingkungan dan ikatan dengan orang tua karna mereka ingin mencari identitas diri. Erikson mengatakan bahwa pada saat akan memasuki masa remaja, remaja akan di hadapkan pada pertanyaan yang sangat penting yaitu tentang “Siapa Aku?”. Pada saat bersamaan, ketika remaja merasakan ketidakpastian akan dirinya.  Lingkungan masyarakat sekitar mulai menanyakan sesuatu yang berkaitan dengan remaja. Misalnya, remaja sudah harus membuat langkah awal dalam menentukan karir, mereka sudah harus memikirkan bidang studi  yang sesuai sehingga dapat mempersiapkan untuk sebuah pekerjaan, dan lain sebagainya. Dengann demikian remaja harus berusaha menemukan  jawabannya baik untuk dirinya sendiri maupun untuk masyarakat sekitarnya. “Siapakah Aku?” adalah pernyataan mendasar tentang pengertian atau pemahaman diri (self definition) dan merupakan tugas perkembangan yang terpenting  pada masa remaja. Perubahan – perubahan yang diakibatkan terjadinya kematangan seksual dan tuntutan - tuntutan psikososial menempatkan remaja pada suatu pernyataan yang menurut Erikson disebut dengan krisis identitas, yaitu suatu tahap untuk membuat keputusan terhadap permasalahan-permasalahan penting yang berkaitan dengan pertanyaan tentang identitas dirinya. Untuk memperoleh jawaban tentang dirinya tersebut maka remaja harus menemukan siapakah dirinya, dia harus memperoleh suatu identitas diri. Keadaan tersebut cukup kompleks, karna melibatkan perkembangan beberapa aspek baik mental, emosional dan sosialnya. Oleh karna itu untuk mencapainya, remaja dihadapkan kepada tugas yang cukup sulit, Karna mereka harus mampu mengkoordinasikan berbagai hal untuk menyelesaikan krisis identitasnya. Remaja harus menemukan apa yang mereka yakini, sikap dan nilai-nilai idealnya, yang dapat memberikan suatu peran dalam kehidupan sosialnya. Karna ketika kita tahu tentang diri kita, kita tahu tentang apa yang kita lakukan, maka kita tahu akan peran kita dalam masyarakat. Apabila remaja memperoleh peran dalam masyarakat, maka dia akan mencapai sense of identity, menemukan identitas dirinya. Dia akan merasa bahwa dia mengetahui akan perannya, siapa dirinya dan tentang keyakinan dan ideologinya. Sebaliknya, apabila remaja tidak dapat menyelesaikan krisis identitasnyadengan baik, maka dia akan merasakan sense of role confusion or identity diffusion, yaitu suatu istilah yang menunjukan perasaan yang berhubungan dengan ketidak mampuan memperoleh peran dan menemukan diri. Beberapa kemungkinan dapat terjadi pada remaja yang mengalami krisis identitas, misalnya mereka dengan mudah menerima peran yang diberikan oleh masyarakat, misalnya bekerja pada perusahaan orang tua atau menikah untuk memperoleh suatu atau peran suami atau istri. Kemungkinan yang lain, remaja beranggapan akan lebih baik menjadi apa saja dari pada tidak mempunyai identitas diri sehingga mereka akan dengan mudah menerima peran yang tidak dapat di terima oleh masyarakat, karna tidak sesuai dengan nilai-nilai ideal dan tatanan kehidupan dalam masyarakat, yang oleh Erikson di sebut sebagai  Negative identity formation

b.    Sumber – Sumber Pembentukan Identitas Diri
    Sumber-sumber yang dapat mempengaruhi pembentukan identitas diri adalah lingkungan sosial, dimana remaja tumbuh dan berkembang, seperti keluarga dan tetangga yang merupakan lingkungan masa kecil, juga kelompok-kelompok yang terbentuk ketika mereka memasuki masa remaja, misalnya kelompok agama atau kelompok yang mendasarkan pada kesamaan minat tertentu. Kelompok-kelompok itu disebut sebagai reference group dan melalui kelompok tersebut remaja dapat memperoleh nilai-nilai dan peran yang dapat menjadi acuan bagi dirinya. Kelompok tersebut dapat membantu remaja untuk mengetahui dirinya dalam perbandingannya dengan orang lain sehingga mereka dapat membandingkan dirinya dengan kelompoknya, dengan nilaiyang ada pada dirinya dengan nilai-nilai dalam kelompok yang selanjutnya akan berpengaruh kepada pertimbangan-pertimbangan apakagh dia akan menerima atau menolak nilai-nilai yang  ada dalam kelompok tersebut.
    Selain reference group, dalam proses perkembangan identitas diri, sering di jumpai bahwa remaja mempunyai significant other yaitu seorang yang sangat berarti, seperti sahabat, guru, kakak, bintang olahraga atau bintang film atau siapapun yang dikagumi. Orang-orang tersebut menjadi tokoh ideal (idola) karena mempunyai nilai-nilai ideal bagi remaja dan mempunyai pengaruh yang cukup besar bagi perkembangan identitas diri, karena pada saat ini remaja sedang giat-giatnya mencari model. Tokoh ideal tersebut dijadikan model atau contoh dalam proses identifikasi. Remaja cenderung akan menganut dan menginternalisasikan nilai-nilai yang ada pada idolanya tersebut kedalam dirinya. Sehingga remaja sering berperilaku seperti tokoh idealnya dengan meniru sikap maupun prilakunya dan bahkan merasa seolah-olah menjadi seperti mereka.
    Remaja dalam kehidupan sosialnya selalu dihadapkan kepada berbagai peran yang ditawarkan oleh lingkungan keluarga maupun kelompok sebaya, yang kadang-kadang menimbulkan benturan-benturan, missalnya menjadi anggota kelompok musik tetapi juga harus menjadi siswa teladan. Maka dalam hal ini remaja harus mampu mengintegrasikan berbagai peran tersebut kedalam diri pribadi (identitas diri ) dan apabila terjadi benturan-benturan berbagai tuntutan peran dapat diselesaikan.

c.    Macam-Macam Keadaan Dalam Pembentukan Identitas Diri
    Berdasarkan pada teori  Erikson, terdapat empat keadaan atau status yang berbeda-b eda dalam pembentukan identitas. Dia berpendapat bahwa perkembangan identitas itu terjadi selain dari menncari aktif ( Eksplorasi ) yang oleh Erikson disebut sebagai krisis identitas, juga tergantung dari adanya commitments terdapat sejumlah pilihan-pilihan seperti sistem nilai atau rencana hari depan. Dalam proses perkembangan identitas maka seseorang dapat berada dalam status yang berbeda-beda. Keempat status tersebut :
a.    Diffussion status yaitu suatu keadaan dimana seseorang kehilangan arah, dia tidak melakukan eksplorasi dan tidak mempunya komitmen terhadap peran-peran tertentu sehingga mereka tidak dapat menemukan identitas dirinya. Mereka akan mudah menghindari persoalan dan cenderung mencari pemuasan dengan segera.
b.    Foreclosure status yaitu suatu keadaan dimana seseorang dapat menemukan diri dan menempunyai komitmen namun tanpa melalui eksplorasi terlebih dahulu. Mereka mempunyai pilihan-pilihan terhadap suatu pekerjaan, pandangan keagamaan atau ideologi namun tidak berdasarkan pertimbangan yang matang dan lebih ditentukan oleh orang tua ataupun gurunya.
c.    Moratorium status yaitu suatu keadaan yang menggambarkan seorang sedang sibuk-sibuknya mencari identitas diri, berada dalam keadaan untuk menemukan diri. Seseorang tidak membuat komitmen tertentu namun secara aktif mengeksplorasi sejumlah nilai, minat, ideologi dan pekerjaan dalam rangka mencari identitas dirinya.
d.    Identity achievement yaitu suatu keadaan dimana seseorang telah menemukan identitasnya dan membuat komitmen-komitmen setelah melalui eksplorasi terlebih dahulu.
Adams dan Gullotta (1983) menggambarkan tentang identitas sebagai berikut:
Identity is a complex psychological phenomenon. It might betjought of as the person in personality. It includes our own interpretation of early childhood identification with important individual in our lives. It includes a sense of direction, commitment, and trust in a personal ideal. A sense of identity integrates sex-role identification, individual ideology, accepted group norm and standars, and much more.
Dalam konteks psikologi perkembangan, pembentukan identita merupakan tugas utama dalam perkembangan kepribadian yang diharapkan tercapai pada akhir masa remaja. Meskipun tugas pembentukan identitas ini telah mempunyai akar-akar pada masa anak-anak, namun pada masa remaja ia menerima dimensi – demensi baru karena berhadapan dengan perunbahan-perubahan fisik, kognitif, dan reasioanal (Grotevant & Cooper, 1998). Selama masa remaja ini, kesadaran akan identitas menjadio lebih kuat, karena itu ia berusaha mencari identitas dan mendefinisikan kembali “siapakah” ia saat ini dan akan menjadi “siapakah” atau “apakah” ia pada masa yang akan datang. Perkembangan identitas selama masa remaja ini juga sangat penting karena ia memberikan sesuatu landasan bagi perkembangan psikososial dan relasi interpersonal pada masa dewasa (Jones & Hartmann, 1988).
Menurut Josselson, 1980 (dalam Seifert & Hoffnung, 1994), proses pencarian identitas proses dimana seseorang remaja mengembangkan suatu identitas personal atau sense of self yang unik, yang berbeda terpisah dari norang lain ini disebut dengan individuasi (individuation). Proses ini terdiri dari empat sub tahap yang berbeda, tetapi saling melengkapi, yaitu : deferensiasi, praktis,eksperementasi,penyesuaian,serta konsolidasi diri. Untuk lebih jelasnya masing-masing sub tahap ini, dapat dilihat dalam tabel berikut.
Sub-Tahap    Usia/Th.    Karakteristik
Diferentiation






Practice







Rapprochmet













consolidation    12-14






14-15







15-18













18-21    Remaja menyadari bahwa ia bebeda secara psikologis dari orang tuanya. Kesadaran ini sering membuatnya mempertanyakan dan menolak nialai – nilai dan nasehat-nasehat orang tuanya, sekalipun nilai-nilai dan nasehat tersebut masuk akal

Remaja percaya bahwa ia mengetahui segala-galanya dan dapat melakukan sesuatu tanpa salah. Ia menyangkal kebutuhan akan peringatan atau nasehat dan menantang orangtuanya pada setiap kesempatan. Kometmennya terhadap teman terhadap teman juga bertambah.

Karena kesedihan dan kehawatiran yang dialaminya, telah mendorong remaja remaja untuk menerima kembali sebagai otoritas orang tuanya, tetapi dengan bersyarat. Tingkah lakunya sering silih berganti antara eksperimentasi dan penyesuaian, kadang mereka menantang dan kadang berdamai dan bekerjasama dengan orang tua mereka. Di satu sisi ia menerima tanggung jawab disekitar rumah, namun disisi lain ia akan mendongkol ketika orang tuanya selalu mengontrol membatasi gerak-gerik dan aktivitasnya diluar rumah.

Remaja mengembangkan kesadaran akan identitas personal, yang menjadi dasar bagi pemahaman dirinya dan diri orang lain, serta untuk mempertahankan perasaan otonomi, idenpenden, dan individualitas.



Teori Psikososial Erikson
Erikson adalah salah seorang teoriisi ternama dalam bidang perkembangan rentang hidup. Salah satu sumbangannya yang terbesar dalam psikologi perkembangan adalah teori psikososial tentang perkembangan. Dalam teorinya ini, Erikson membagi perkembangan manusia berdasarkan kualitas ego dalam delapan tahap perkembangan. Kedelapan tahap perkembangan tersebut dapat dilihat dalam tabel berikut.
Tahap-tahap perkembangan psikososial Erikson
Tahap Psikososial    Usia kira-kira
Kepercayaan vs. Ketidakpercayaan (trust vs. Mistrust)

Otonomin vs. Rasa malu dan ragu-ragu ( Autonomy vs. Shame and doubt)

Inisiatif vs rasa bersalah (Initiative vs guilt)

Ketekunan vs rasa rendah diri (industry vs inferiority)

Identitas dan kebingungan peran (ego identity vs. Role confusion)

Keintiman vs. Isolasi
(generativity vs, isalation)

Generativitas vs stagnasi ( generativity vs. Stagnation)

Integritas ego vs. Keputusan
(Ego integrity vs despair)

    Lahir – 1 tahun ( masa bayi)


1-3 tahun ( masa kanak-kanak)


4-5 tahun ( masa pra-sekolah)

6-11 tahun ( masa sekolah dasar)


12-20 tahun  ( masa remaja)


20-24 tahun ( masa awal dewasa)


25-65 tahun  (masa pertengahan dewasa)


65 tahun-mati (masa akhir dewasa)
SUMBER: Diadaptsi dari Jerry & Phares (1987)
Masing-masing hidup terdiri dari tugas perkembangan yang khas, yang mengharuskan individu menghadapi suatu kritis. Krisis ini bagi erikson bukanlah suatu bencana, tetapi suatu titik balik peningkatan kerentaan dan peningkatan potensi, yang mempunyai kutup positif dan negatif. Semakin berhasil individu mengatasi krisis, akan semakin sehat perkembangannya (Santrock, 1995).
Dalam karya klasiknya yang berjudul Identity: Youth and Crisis (1996), terlihat bahwa dari kedelapan tahap perkembangan tersebut, Erikson, lebih memberi poenekanan pada identitas  vs. Kebingungan identitas (identity vs. Identity confusion), yang terjadi  selama masa remaja. Hal ini adalah karena tahap tersebut merupakan peralihan dari masa anak-anak ke masa dewasa. Peristiwa-peristiwa yang terjadi pada tahap ini sangat menentukan perkembangan kepribadian masa dewasa.
Selama masa ini, remaja dimulai memiliki suatu perasaan tentang identitasnya sendiri, suatu perasaan bahwa ia adalah manusia yang unik. Ia mulai menyadari sifat-sifat yang melekat pada dirinya, seperti kesukaan dan ketidak sukaanya, tujuan –tujuan yang diinginkan tercapai dimasa mendatang, kekuatan dan hasrat untuk mengintrol kehidupannya sendiri. Dihadapannya terbentang banyak peran baru dan status orang dewasa.
Akan tetapi , karena peralihan yang sulit dari masa anak-anak kemasa dewasa disatu pihak, dan kepekaan terhadap perubahan sosial dan historis dipihak lain, maka selama tahap pembentukan identitas ini seorang remaja  mungkin merasakan penderitaan paling dalam dibandingkan pada masa-masa lain akibat kekacauan peran-peran atau kekacauan identitas (identity confusion). Kondisi demikian menyebabkan remaja teresolasi, hampa, cemas, dan bimbang. Mereka sangat peka terhadap cara-cara orang lain memandang dirinya, dan menjadi mudah tersinggung dan merasa malu. Selama masa kekacauan identitas ini tingkah laku remaja tidak konsisten  dan tidak dapat diprediksikan. Pada suatu saat mungkin ia akan lebih tertutup terhadap siapapun, karena akibat takut ditolak, atau dikecerwakan. Namun pada tidak memperdulikan konsekuensi-konsekuensi dari kometmennya (Hall & Lindzey, 1993)
Berdasarkan kondisi demikian, maka menurut Erikson, salah satu tugas perkembangan selama masa remaja adalah menyelesaikan krisis identitas, sehingga diharapkan terbentuk suatu identitas diri yang stabil pada akhir masa remaja.  Remaja yang berhasil mencapai suatu identitas diri yang stabil, akan memperoleh suatu pandangan yang jelas tentang dirinya, memahami perbedaan dan persamaanya dengan orang lain, menyadari kelebihan dan kekurangan dirinya, penuh percaya diri, tanggap dalam berbagai situasi, maupun mengambil keputusan penting, maupun mengantisipasi tantangan masa depan, serta mengenal peran dalam masyarakat( Erikson, 1989). Kegagalan dalam mengatasi krisis identitas dan mencapai suatu identitas yang relatif stabil, akan sangat membahayakan masa depan remaja. Sebab, seluruh masa depan remaja sangat ditentukan oleh penyelesaian krisis tersebut.
Disamping itu, Erikson juga menyebutkan bahwa selama masa – masa sulit yang dialami remaja, ternya ia berusaha merumuskan dan mengembangkan nilai kesetiaan (komitmen), yaitu kemampuan untuk mempertahankan loyalitas yang diikrarkan dengan bebas meskipun terdapat kontradiksi-kontradiksi yang tak terelakkan di antara sistem-sistem nilai. Lebih jauh dijelaskannya bahwa komitmen merupakan fondasi yang menjadi landasan terbentukanya suatu perasaan identitas yang bersifat kpntinu. Substansi kkomitemen diperoleh melaluai konfirmasi oleh ideologi-ideologi dan kebenaran-kebenaran , serta juga melalui afirmasi dari kawan-kaawan. Perkembangan identitas berpangkal pada kebutuhan inheren manusia untuk merasa bahwa  dirinya termasuk dalam kelompok-kelompok tertentu , seperti kelompok etnik atau kelompok agama, dimana ia berpartisipasi dalam kegiatan adat istiadat, ritual-ritual, atau ideologi-ideologinya (Hall & Lindzey, 1993).
d.    Pandangan Kontemporer
Pandangan-pandangan kontemporer tentang pembentukan identitas pada prinsipnya merupakan elaborasi dari teori psikososial Erikson. Diantaranya yang paling terkenal adalah pandangan-pandangan James Marcia. Seperti hal Erikson, Marcia juga percaya bahwa pembentukan identitas merupakan tugas utama yang harus diselesaikan pada masa remaja. Dalam hal ini Marcia menulis: “The formation of an ego identity is major event in the development of personality. Occuring during late adolescence, the consolidation of identity marks the end of childhood and the beginning of adulthood, “ (Marcia, 1993).
Menurut marcia, pembentukan identitas ini memerlukan adanya dua elemen penting, yaitu eksplorasi (krisis) dan kometmen. Istilah “eksplorasi” menunjuk pada suatu masa dimana seseorang berusaha menjelajahi berbagai alternatif pilihan, yang pada akhirnya bisa menetapkan satu alternatif tertentu dan memberikan perhatian yang besar terhadap keyakinan dan nilai-nilai yang diperlukan dalam pemilihan alternatif tersebut. Sedangkan istilah “komitmen” menunjukkan pada usaha membuat keputusan mengenai pekerjaan atau ideologi, serta menentukan serta menentukan berbagai srategi untuk merealisasikan keputusan tersebut. Dengan perkataan lain, komitmen adalah keputusan untuk membuat alternatuf-alternatif tentang elemen-elemen identitas dan secara langsung aktivitas diarahkan pada implikasi dari alternatif-alternatuf ntersebut. Seseorang dikatakan memiliki kometmen bila elemen identitasnya berfungsi mengarahkan tindakannya, dan selanjutnya tidak membuat perubahan berarti terhadap elemen identitas tersebut (Marcia,1993).
Dalam suatu studi empirik tentang perkembangan identitas selama masa remaja yang didasarkan pada ide-ide Erikson, Marcia menginterviu aspek – aspek penting identitas pilihan pekerjaan, agama, dan sikap-sikap politik) dari siswa-siswa usia 8-22 tahun . berdasarkan hasil penelitiannya ini, Marcia mencatat bahwa pembentukan identitas merupakan suatu proses yang sulit dan penuh tantangan. Dalam hal ini, Marcia (1980), mengklasifikasikan siswa dalam 4 katagori status identitas yang didasarkan pada dua pertimbangan :
1.    Apakah mereka mengalami suatu krisis identitas atau tidak.
2.    Pada tingkat nama mereka memiliki komitmen terhadap pemilihan pekerjaan, agama, serta nilai-nilai politik dan keyakinan. Keempat katagori itu adalah:
Status 1: identity diffudion ( penyebaran identitas). Remaja belum mempunyai pengalaman dalam suatu krisis, tetapi telah menunjukkan sedikit perhatian atau komitmen terhadap pilihan pekerjaan, agama dan politik.
Status 2: identity foreclosure (pencabutan identitas). Remaja belum mempunyai pengalaman dalam suatu krisis, tetapi telah menunjukkan sedikierhatian atau komitmen terhadap pilihan pekerjaan, agama dan politik.
    Status 3:identity moratorium (penundaan identitas). Remaja dalam katagori ini tengah berada dalam krisis, secara aktif berjuang membentuk kometmen-kometmen dan meningkat perhatian terhadap hasil kompromi yang dicapai antara keputusan orang tua mereka, harapan-harapan masyarakat dan kemampuan-kemampuan mereka sendiri. Meskipun demikian, komitmen mereka hanya didefinisikan secara samar.
    Status 4: Identity achievement ( pencapaian identitas). Remaja dalam kelompok ini telah berpengalaman dan berhasil menyelesaikan suatu priode krisis mengenai nilai-nilai dan pilihan-pilihan hidup mereka. Mereka juga telah memiliki komitmen terhadap sebuah pekerjaan, agama dan politik yang didasarkan pada pertimbangan dari berbagai alternatif dan kebebasan relatif yang diberikan oleh orang tuanya. Keempat status identitas tersebut diringkas dalam tabel berikut.

Empat Status Identitas dari Marcia
Status Identitas
    Diffusion    Foreclosure    Moratorium    Achievement
Krisis kometmen periode dari masa remaja dimana status sering terjadi    Tidak ada
 ada
awal    Tidak ada
Ada
 Pertengahan    Ada
tidak ada pertengahan    Ada
Ada
Akhir

Proses pembentukan identitas tersebut menurut Marcia terjadi secara gradual sejak lahir, yakni sejak anak berinteraksi dengan ibu dan anggota keluarga lainya. Marcia juga mengidentifikasi beberapa variabel yang saling mempengaruhi dalam proses pembentukan identitas, yaitu:
1.    Tingkat identifikasi dengan orang tua sebelum dan selama masa remaja
2.    Gaya pengasuh orang tua
3.    Ada figure yang menjadi model
4.    Harapan sosial tentang pilihan identitas yang terdapat dalam keluarga, sekolah dan teman sebaya
5.    Tingkat keterbukaan individu terhadap berbagai alternatif identitas
6.    Tingkat kepribadian pada masa pra-adolesen yang memberikan sebuah landasan yang cocok untuk mengatasi masalah identitas (Marcia, 1993).


B.    Perkembangan psiko-sosial

1.    Tinjauan Terhadap Emosi, Identitas Diri Dan Moral
Remaja akhir kondisi emosinya tidak meledak-ledak lagi melainkan secara relatif telah stabil. Bila menghadapi objek yang menyenangkan atau tidak menyenangkan bersikap atas hasil memikirannya sendiri. Hal ini tidak berarti tak pernah bertengkar dengan orang lain. Bila terjadi bentrokan atas salah paham akan dihadapi dengan tenang dan teratur yang dibatasi oleh norma-norma orang dewasa terutama yang menyadari tokoh identitasnya.
Tokoh identitas itu diperoleh setahap demi setahap. Mula-mula remaja ingin mendapatkan pedoman hidup namun masih belum mengerti benar-benar pedoman mana yang akan dianut sesuai dengan sifat eksplorasinya akan menemukannya melaluai langkah-langkah, segai berikut.
a.    Apa yang didambakan dan dipuja mempunyai bentuk tertentu. Masa remaja dimulai dengan masa memuja atau mendewakan sesuatu.
b.    Selanjutnya objek yang dipuja makin jelas, adanya pribadi-pribadi pendukung nilai yaitu individu-individu tertentu misalnya: pangeran Diponegoro, Kartini, dan tokoh-tokoh nasional maupun internasional.
c.    Tahap selanjutnyabukan individu pendukung tetapi nilai-nilai ( yang mendukung)misalnya kejujurannya, keadilannya , kepahlawanannya. Nilai-nilai itu akan menjadi pegangan hidupnya.
Tahapan tersebut berjalan tidak sekilas saja melainkan mungkin sepanjang masa remaja bahkan baru dicapai dalam masa dewasa. Ercikson dalm Ny Singgih Gunarso dan Singgih Gunarso (1981:97) menulis masa remaja mempunyai tujuan utama dan seluruh perkembangan adalah pembentukan identitas diri, Ercikson menegaskan, untuk mengetahui identitas diri harus dapat mencari jawaban atas pertanyaan ini.
Who am I? Atau Siapakah Saya?
What am I? Atau Apakah Saya?
Where I belong to ? atau Dimanakah tempat saya?
Maka pengertian indentitas tidak mudah diterangkan . berikut ini temukan beberapa pendapat ahli sebagai berikut:
1.    Identitas diartikan suatu inti pribadi yang ada, walaupun mengalami perubahan bertahap dengan bertambahnya umur dan perubahan lingkungan.
2.    Identitas diartikan sebagai cara hidup tertentu yang sudah dibentuk pada masa-masa sebelumnya dan menentukan peran sosial yang harus dijalani.
3.    Identitas merupakan suatu hasil  yang diperoleh pada masa remaja tetapi masih akan mengalami perubahan dan pembaharuan.
4.    Identitas itu dialami sebagai suatu kelangsungan dalam dirinya dan dalam hubungan keluar dirinya.
5.    Identitas merupakan suatu penyelesaian peran sosial yang pada asasnya mengalami perubahan.
jadi  identitas itu merupakan persatuan yang terbentuk dari asas-asas, cara hidup , untuk mencapai perkembangan itu remaja mempunyai  tugas yang saling berhubungan, yaitu;
1.    Harus dapat melepaskan diri dari ikatan orang tua dan membentuk cara hidup pribadi yang dirasa ada keserasian atara kebutuhan diri dalam hubungan dengan orang lain.
2.    Harus menemukan suatu tempat  yang dapat menerimanya, dan memilih serta menjalankan peran sosial sesuai dengan tempat dimana ia berada.
Atas dasar itu remaja mendapat menjadi individu yang mandiri, namun tetap harus membina hubungan yang baik dengan lingkungannya.
Dalam masa remaja mengalami krisis identitas. Selama perkembangan mengalami kegoncangan karena perubahan dalam dirinya maupun dari luar dirinya, yaitu sikap orang tua,guru,cara mengajar,dan masih banyak lagi serta melepaskan diri dari orang tua dan bergabung dengan teman sebaya. Apa yang diperoleh dan dianut/dipatuhi menjadi goyah karena berkenalan dengan nilai-nilai baru. Jadi dalam pembentukan identitas diri mengalami kegoncangan yang disebut krisis identitas kejadian ini merupakan kejadian normal karena memungkinkan perkembangan yang luas. Krisis bersifat  sementara ditandai dengan kekuatan berlebihan dan menimbulkan konflik baru yang disalurkan dalam aktifitas yang konstruktif sehingga dapat digunakan untuk menyelesaikan masalah.
Krisis dikatakan tidak normal bila menimbulkan keinginan mempertahankan diri sehingga menuju kepengasingan diri atau menarik diri dari realita.
Sosialisasi dalam peer group para remaja akhir biasanya sudah mengendur namun telah tersedia berbagai organisasi sesuai dengan minat bakat masing-masing. Felly dan Andi Mappiare (1982:89) mengatakan bahwa dalam masa remaja seseorang mempersiapkan diri memasuki masa dewasa.
Dalam masa remaja akhir merupakan periode kritis atau citical eriod dalam berbagai hal yaitu : sosial,pribadi,dan moral. Perkembangan telah dimiliki sejak pada remaja awal akan dimantapkan menjadi dasar memandang diri dan lingkungan nya untuk masa selanjutnya. Untuk kemantapan itu sedikit banyak dipengaruhi keadaan lingkungan maupun pandangan nya terhadap kehidupan masyarakat. Demikian pula akhir yang pengaruh kuat lemahnya pribadi,citra diri, dan rasa percaya diri. Remaja akhir yang sedang memantapkan diri dan menghadapi lingkungan konkrit. Mereka bersikap kritis, sesuai dengan pertimbangan moral dan etnis mereka memungkinkan perlakuan moral dan etnis terhadap situasi itu adalah sebagai berikut:
Bagi remaja akhir yang bermasalah, yang menarik diri/wildrawal, mengikuti arus/hanyut dalam tatanan yang tidak memuaskan atau masyarakat kacau balau.
Bagi remaja yang mengalami perkembangan positif dapat memahami dan menerima tatanan yang ideal dan kenyataan, yaitu adanya kepincangan-kepincangan sosial. Berarti terjadi konsensus antara dalam diri dan lingkungan sosial, antara ideal dal realita. Pandangan positif itu akan menunjang kesehatan mental para remaja akhir.

2.    Perkembangan Kepribadian Remaja
    Dalam pembahasan mengenai remaja , sering terlihat adanya pemakaian istilah yang menunjukan masa atau fase kehidupan yang tidak sama. Demikian pula istilah asing yang berkaitan dengan masa yang akan di bahas ini, beranekaragam. Perkembangan psikososial berhubungan dengan berfungsinya seseorang dalam lingkungan sosial, yakni dengan melepaskan diri dari ketergantungan pada orang tua, pembentukan rencana hidup dan pembentukan sistema nilai-nilai.
    Istilah “adolescentia” juga berasal dari bahasa latin, “adolescentia”. Berbeda dengan pengertian “pubertas” yang berkaitan dengan tercapainya tanda kematangan fisik, “adolescentia “ dikaitkan dengan masa yang berbeda –beda.
    Dari kepustakaan belanda dapat disimpulkan bahwa adolescentia dimulai setelah tercapai kematangan  seksual secara biologis, sesudah pubertas. Jadi Adolescentia adalah masa perkembangan sesudah masa pubertas, yakni antara umur  17 tahun dan 22 tahun.
J. Piaget Memandang “Adolescentia” sebagai suatu fase hidup, dengan perubahan perubahan penting pada fungsi inteligensi, tercakup dalam perkembangan aspek kognitif.
Anna Freud menggambarkan masa adolesensia  sebagai suatu proses perkembangan meliputi perubahan-perubahan berhubungan dengan perkembangan psikoseksual, perubahan dalam hubungan dengan orang tua dan cita-cita mereka.
F. Neidhart Juga melihat masa adolescentia sebagai masa peralihan ditinjau dari kedudukan ketergantungannya dalam keluarga menuju ke kehidupan dengan menuju ke kehidupan dengan kedudukan “mandiri”.
E.H. Erikson mengemukakan timbulnya perasaan baru tentang identitas dari pada masa adolescentia. Terbentuknya gaya hidup tertentu sehubungan dengan penempatan dirinya, yang tetap dapat dikenal oleh lingkungannya walaupun mengalami perubahan pada dirinya maupun kehidupan sehari-hari.
Stanley Hall adalah ahli pertama yang memandang perlu masa remaja di selidiki secara khusus, dan mengumpulkan bahan empiris.
    Stanley Hall antara lain mengemukakan bahwa perkembangan psikis banyak dipengaruhi oleh faktor-faktor fisiologis. Faktor-faktor fisiologis ini di tentukan oleh genetika, disamping proses pematangan yang mengarahkan pertumbuhan dan perkembangan. Hal ini akan terlihat dimana saja, sehingga dapat disimpulkan kurang berperannya lingkungan sosial budaya. Sebaliknya, ia juga mengemukakan bahwa masa remaja merupakan masa penuh gejolak emosi dan ketidakseimbangan, yang tercakup dalam “storm and stress”, dengan demikian remaja mudah terkena pengaruh oleh lingkungan. Remaja diombang-ambingkan oleh munculnya :
1.    Kekecewaan dan penderitaan
2.    Meningkatnya konflik, pertentangan-pertentangan dan krisis penyesuaian
3.    Impian dan khayalan
4.    Pacaran dan percintaan
5.    Keterasingan dari kehidupan dewasa dan norma kebudayaan.
A.Bandura berpendapat bahwa masa remaja menjadi suatu masa pertentangan dan “pemberontakan” karna terlalu menitik beratkan ungkapan-ungkapan bebas dan ringan dari ketidakpatuhan seperti misalnya model gunting rambut dan pakaian yang nyentrik. Bacaan, film dan penerangan masa lainya sering menggambarkan para remaja sebagai kelompok yang tidak bertanggung jawab, memberontak, melawan dan prilaku mereka sering dinilai secara umum dengan kemungkinan berakibat sensasional. Sikap dan pandangan yang negatif terhadap remaja tidak menunjang  “pemunculan” sifat-sifat lebih baik, lebih dewasa dalam massa peralihan ini.
    Selanjutnya terlihat pula pandangan yang lebih mengutamakan lingkungan kebudayaan dalam peranannya pada perkembangan masa remaja, karna di dapatkannya berbagai ragam masa remaja sehubungan dengan kebudayaan yang berbeda pula. Pandangan ini terlalu menitikberatkan pengaruh kebudayaan, tanpa melihat adanya sebab yang universal. Semua perubahan fisik sesungguhnya berpangkal pada terbentuknya hormon seks dari kelenjar yang baru mulai bekerja pada masa ini. Akan tetapi pemunculan pola prilaku seksual berbeda, sesuai dengan kebudayaan masyarakat yang bersangkutan, karna lingkungan memegang peranan besar dalam perkembangan kepribadian, maka dapat dikatakan bahwa remaja belajar dari dalam lingkungan. Perkembangan merupakan suatu proses belajar sosial yang berkesinambungan. Sebagai hasil belajar dan pengalaman dari lingkungan, maka muncullah prilaku yang baru. Masyarakat dan lingkungan sekitar mempunyai harapan-harapan tertentu pada remaja. Melalui proses belajar sosial, remaja belajar memenuhi harapan dan tuntutan terhadapnya.
    Menyadari banyaknya tuntutan dan harapan lingkungan terhadap remaja,  E. Spranger mengemukakan bahwa pada masa ini remaja sangat memerlukan pengertian dari orang lain. Bantuan dapat diberikan melalui pemahaman tentang diri remaja.
    Harapan masyarakat terhadap remaja dapat dipenuhi melalui suatu proses bersinambungan dalam menjalankan tugas-tugas perkembangan. Sebagai hasil dari kerja timbal balik yang majemuk antara pertumbuhan dari dalam dan perangsangan dari lingkungan akan bermunculan serangkaian prilaku baru menuju tercapainya masa dewasa. Tergantungnya dari reaksi lingkungan dan pemahaman lingkungan terhadap munculnya perubahan-perubahan itulah, akan timbul atau tidak masalah bagiremaja.
Beberapa tugas perkembangan bagi remaja :
1.    Menerima keadaan fisiknya
2.    Memperoleh kebebasan emosional
3.    Mampu bergaul
4.    Menemukan model untuk identifikasi
5.    Mengetahui dan menerima kemampuan sendiri
6.    Memperkuat penguasaan diri atas dasar skala nilai dan norma
7.    Meninggalkan reaksi dan cara penyesuaian kekanak-kanakan.
Beberapa ciri khas remaja :
1.    Kecanggungan dalam pergaulan dan kekakuan dalam gerakan, sebagai akibat dari perkembangan fisik, menyebabkan timbulnya perasaan rendah diri. Kurangnya kemampuan dalam hal belajar, olah raga maupun ketrampilan lainnya, menambah perasaan rendah diri dan menghambat keinginan bergaul.Acap kali terlihat pula prilaku “berlebihan” (overacting) untuk menutupi perrasaan tersebut untuk menutupi  perasaan tersebut dan memenuhi kebutuhan bergaul.
2.    Ketidak seimbangan secara keseluruhan terutama keadaan emosi yang labil. Berubahnya emosionalitas, perubahannya suasana hati yang tidak dapat di ramalkan sebelumnya, menyulitkan orang lain mengadakan pendekatan. Labilitas remaja menyebabkan kurang tercapainya pengertian  orang lain akan diri pribadi remaja. Keadaan yang baru dialami remaja, juga menyebabkan remaja sendiri sering tidak mengerti dirinya sendiri. Suassana hati dimana remaja merasa dalam jurang, atau menghadapai jalan buntu maupun “kegelapan” memerlukan uluran tangan orang lain dengan penuh tanggung jawab, supaya remaja tidak terperosok lebih dalam, atau terjerumus dalam perbuatan “nekad”.
3.    Perombakan pandangan dan petunjuk hidup yang telah di perolah pada masa sebelumnya , meninggalkan perasaan kosong di dalam diri remaja. Remaja tidak menyadari sebab perasaan kosong tersebut, tetapi membuang kesempatan baik dengan cara mngosongkan diri dari hasil “didikan” orang tua. Ini tidak berarti bahwa remaja tidak bisa mengisi dirinya. Remaja dengan “kekosongannya” justru terbuka bagi pengaruh lain, baik dari pribaadi yang bertanggung jawab maupun yang tidak. Ciri remaja ini sering menyebabkan remaja menjadi “umpan” dan mangsa mereka yang tidak memiliki rasa tanggung jawab atas kesejahteraan orang lain.
4.    Sikap menentang dan menantang orang tua maupun orang dewasa lainnya merupakan ciri yang mewujudkan keinginan remaja untuk merenggangkan ikatannya dengan orang tua dan menunjukan ketidak tergantungannya kepada orang tua maupun orang dewasa lainnya. Usaha pendewasaan diri terungkap dari sikap menentang dan menantang sering menghambat tercapainya hubungan baik dengan keluarga dan menghambat pelancaran komunikasi antaraorang tua dan remaja.
5.    Pertentangan di dalam dirinya sering menjadi pangkal sebab pertentangan-pertentangan dengan orang  tua dan anggota keluarga lainnya. Disatu pihak remaja ingin melepaskan diri dari ketergantungannya kepada orang tua dan rasa aman keluarga, dilain pihak masih ingin mengecap perlindungan keluargadan di timang dalam kasih sayang orang tua. Di satu pihak inginmeninggalkan keluarga dan mencari pengalaman sendiri dengan hidup sendiri, tetapi dipihak lain merasa takut  bila mengingat konsekuensi dari langkah yang akan di ambilnya. Akhirnya remaja tidak tahu apa yang harus dilakukannya.
6.    Kegelisahan, keadaan tidak tenang menguasai diri remaja. Banyak hal diinginkan, tetapi remaja tidak sanggup memenuhi semuannya. Banyak cita-cita dan angan-angan, mungkin sampai setinggi langit, tentu tidak mungkin tercapai semuanya, keinginan yang tidak tercapai baik keinginan yang muluk-muluk maupun keinginan untuk melaksanakan kewajiban rutin yang belum terjangkau meninggalkan perasaan gelisah.
7.    Eksperimentasi, atau keinginan besar yang mendorong remaja mencoba dan melakukan segala kegiatan dan perbuatan orang dewasa, bisa di tampung melalui saluran-saluran ilmu pengetahuan. Eksperimentasi yang terbimbing secara konstruktif bisa menghasilkan pendalaman ilmu dan penemuanpengetahuan baru.
8.    Eksplorasi, kinginan untuk menjelajahi lingkungan alam sekitar sering disalurkan melalui penjelajahan alam, pendakian gunung dan terwujud dalam petualangan-petualangan. Eksplorasi yang di persiapkan dengan bekal pengetahuan untuk memperluas pengetahuan, perlu dikembangkan. Eksplorasi dan petualangan yang tidak di persiapkan secara masak bisa menimbulkan malapetaka. Misalnya, pendakian gunung tanpa perlengkapan dan pengetahuan mengenai daerah pegunungan tersebut mungkin menyebabkan terjebaknya remaja di tempat yang bergas racun.
9.    Banyaknya fantasi, khayalan dan bualan merupakan  ciri khas remaja. Banyak hal yang tidak mungkin tercapai, bisa tercapai dalam fantasi. Remaja yang berfantasi mengenai banyak pengagum yang mengajarnya, sesungguhnya dalam kesepiannya membuat cerita khayalan tersebut. Remaja menutupi prestasi belajar yang tidak memuaskan dirinya dengan membual tentang keberhasilan yang dilebih-lebihkan
10.    Kecenderungan membentuk kelompok dan kecenderungan kegiatan kelompok. Sering terlihat bahwa pembasmian kelompok (gang) sulit terlaksana.kebersamaan dan kegiatan berkelompok memberikan dorongan moril pada sesama remaja. Remaja memperoleh kekuatan dari keadaan bersama tersebut. Dalam hal ini perlu diperhatikan agar kemungkinan timbulnya kekuatan yang disalurkan secara negatif dan destruktif dapat di cegah dan selanjutnya menyalurkannya secara positif.

Pengertian remaja

PEMBAHASAN
A.    Pengertian Remaja
    Masa remaja merupakan salah satu  periode dari  perkembangan manusia. Masa ini merupakan masa  perubahan atau peralihan dari masa kanak-kanak ke masa dewasa yang meliputi perubahan biologik, perubahan psikologik, dan perubahan sosial. Di sebagian besar masyarakat  dan budaya masa remaja pada umumnya dimulai pada usia 10-13 tahun dan berakhir pada usia 18-22 tahun (Notoatdmojo, 2007).  Menurut Soetjiningsih (2004)  Masa remaja merupakan masa peralihan antara masa anak-anak yang dimulai saat terjadinya kematangan seksual yaitu antara  usia  11 atau 12 tahun sampai dengan  20 tahun, yaitu masa menjelang dewasa muda. Berdasarkan umur kronologis dan berbagai kepentingan, terdapat defenisi tentang remaja yaitu:
1.    Pada buku-buku   pediatri,  pada umumnya  mendefenisikan  remaja adalah  bila seorang anak telah mencapai umur 10-18 tahun dan umur 12-20 tahun anak laki- laki.
2.    Menurut undang-undang  No. 4 tahun 1979 mengenai kesejahteraan anak, remaja adalah   yang  belum  mencapai 21  tahun dan belum  menikah.
3.    Menurut undang-undang perburuhan, anak dianggap remaja apabila telah mencapai umur 16-18 tahun atau sudah menikah dan mempunyai tempat tinggal.
4.    Menurut undang-undang  perkawinan No.1 tahun 1979, anak dianggap sudah remaja apabila cukup matang, yaitu umur 16 tahun untuk perempuan dan  19 tahun untuk anak-anak laki-laki.
5.    Menurut dinas kesehatan anak dianggap sudah remaja apabila anak sudah berumur 18 tahun, yang sesuai dengan saat lulus sekolah menengah.
6.    Menurut WHO, remaja bila anak telah mencapai umur 10-18 tahun.
(Soetjiningsih, 2004).
Dalam budaya Amerika, periode remaja ini dipandang sebagai masaa “Strom & Stress”, frustasi dan penderitaan, konflik dan krisis penyesuain, mimpi dan melamun tentang cinta, dan persasaann tersisihkan dari kehidupan sosial budaya orang dewasa (Lustinb Pikunas, 1976).






B.    Tahap – tahap Perkembangan dan Batasan Remaja
    Dalam proses penyesuaian diri menuju kedewasaan, ada 3 tahap perkembangan remaja:
1.    Remaja awal (early adolescent)
        Seorang remaja pada  tahap ini masih terheran-heran akan perubahan-perubahan yang terjadi pada tubuhnya sendiri dan dorongan- dorongan yang menyertai perubahan-perubahan itu. Mereka mengembangkan pikiran-pikiran baru, cepat tertarik pada lawan jenis,  dan mudah terangsang secara erotis. Dengan dipegang bahunya saja  oleh lawan jenis ia sudah berfantasi erotik. Kepekaan yang berlebih-lebihan ini ditambah dengan berkurangnya kendali terhadap ego menyebabkan para remaja awal ini sulit dimengerti dan dimengerti orang dewasa.
2.    Remaja madya (middle adolescent)
Pada tahap  ini remaja sangat membutuhkan kawan-kawan. Ia senang kalau banyak teman yang mengakuinya. Ada kecenderungan narsistis yaitu mencintai diri sendiri, dengan menyukai teman-teman yang sama dengan dirinya, selain itu, ia berada dalam kondisi kebingungan karena tidak tahu memilih yang mana peka atau tidak peduli, ramai-ramai atau sendiri, optimistis atau pesimistis, idealis atau materialis, dan sebagainya.  Remaja pria harus  membebaskan diri dari  oedipus complex (perasaan cinta pada ibu sendiri pada masa anak-anak) dengan mempererat hubungan dengan kawankawan.
3.    Remaja akhir (late adolescent)
        Tahap ini adalah masa konsolidasi menuju periode dewasa dan ditandai dengan pencapaian lima hal yaitu:
a.    Minat yang makin mantap terhadap fungsi-fungsi intelek.
b.    Egonya mencari kesempatan untuk bersatu dengan orang-orang lain dan dalam pengalaman- pengalaman baru.
c.    Terbentuk identitas seksual yang tidak akan berubah lagi.
d.    Egosentrisme (terlalu memusatkan perhatian pada diri sendiri) diganti dengan keseimbangan antara kepentingan diri sendiri dengan orang lain.
e.    Tumbuh ”dinding” yang memisahkan diri pribadinya (private self) dan masyarakat umum (Sarwono, 2010).

    Berkaitan dengan kesehatan reproduksi remaja kita sangat perlu untuk mengenal perkembangan remaja serta ciri-cirinya. Berdasarkan sifat atau ciri perkembangannya, masa (rentang waktu) remaja ada tiga tahap yaitu:
1.    Masa remaja awal (10-12 tahun)
a.    Tampak dan memang merasa lebih dekat dengan teman sebaya.
b.    Tampak dan merasa ingin bebas.
c.    Tampak dan memang lebih  banyak memperhatikan keadaan tubuhnya dan mulai berpikir yang khayal (abstrak).
2.    Masa remaja tengah (13-15 tahun)
a.    Tampak dan ingin mencari identitas diri.
b.    Ada keinginan untuk berkencan atau ketertarikan pada lawan jenis.
c.    Timbul perasaan cinta yang mendalam
3.    Masa remaja akhir (16-19 tahun)
a.    Menampakkan pengungkapan kebebasan diri.
b.    Dalam mencari teman sebaya lebih selektif.
c.    Memiliki citra (gambaran, keadaan, peranan) terhadap dirinya.
d.    Dapat mewujudkan perasaan cinta.
e.    Memiliki kemampuan berpikir khayal atau abstrak. (Widyastuti dkk, 2009).
















C.    Perspektif Sejarah Remaja
    Dalam membahas makna remaja ini, berikut dikemukakan beberapa tinjauan atau pandangan dari para ahli lain.
1.    Perspektif Biososial
        Perspektif ini memfokuskan kajiannya kepada hubungan antara mekanisme biologis dengan pengalaman sosial. Tokoh-tokohnya adalah G. Stanley Dan Roger Barker.
a.    G. Stanley Hall
    Hall berpendapat bahwa remaja merupakan masa “Strum and Drang”, yaitu sebagai periode yang berada dalam dua situasi; antara kegoncangan, penderitaan, asmara, dan pemberontakan dengan otoritas orang dewasa. Selanjutnya, dia mengemukakan bahwa pengalaman sosial selama remaja dapat mengarahkannya untuk menginternalisasi sifat-sifat yang diwariskan oleh generasi sebelumnya.
b.    Roger  Barker
    Berbeda dengan Hall, Barker menekankan orientasinya kepada sosio-psikologios. Karena masa remaja merupakan periode pertumbuhan fisik yang cepat dan peniungkatan dalam koordinasi, maka remaja merupakan masa transisi antara masa anak dan dewasa.

2.    Perspektif Relasi Interpersonal
        Remaja merupakan suatu periode yang mengalami perubahan dalam hubungan sosial, yang ditandai dengan berkembanganya minat terhadapa lawan jenis, atau pengalaman pertama dalam bercinta. Yang menjadi tokoh dalam perspektif ini adalah sebagai berikut.
a.    George Levinger
    Dia berpendapat bahwa remaja mulai mengenal minatnya terhadap lawan jenisnya, yang biasanya terjadi pada saat kontak dengan kelompok. Setelah mereka berada dalam kelompok, maka terjadi kontak atau hubungan diantara mereka, dari mulai hubungan pertama sampai terjadi hubungan yang akrab terdapat tiga tahapan sebagai berikut.
1)    Kesadaran untuk berhubungan (Unilaterally Aware). Kesadaran ini hanya terbatas pada informasi dan impresi (kesan umum) tentang yang lain berdasarkan penampilan fisiknya.
2)    Kontak permulaan (Surface Contact). Pada tahap kedua ini hubungan di antara kelompok atau antara dua orang, frekuensi sudah begitu sering. Diantara mereka sudah terjalin komunikasi meskipun belum begitu intensif.
3)    Saling berhubungan (mutually= aContinuum). Pada tahap ini terjadi interpedepensi di antara dua orang yang berlainan jenis. Hubungan diantara mereka menjadi begitu akrab, melalui saling tukar pengetahuan, pengalaman, perasaan, membantu satu sama lainnya.
b.    Ellen Berschheid & Elaine Walster
    Mereka berpendapat bahwa bungungan di antara dua remaja yang berbeda jenis kelamin mendorong remaja ke arah percintaan (pacaran). Perasaan cinta di antara dua remaja dapat dikatakan sebagai perasaan yang bergairah atau nafsu birahi. Perasaan ini diperkuat oleh fantasi-fantasi yang menyenangkan dengan patner pacaranya.

3.    Perspektif Sosiologis dan Antropologi
        Perspektif ini menekankan studinya terhadap norma, moral, harapan-harapan budaya dan sosial, ritual, tekanan kelompok, dan dampak teknologi terhadap perilaku remaja. Tokoh-tokohnya adalah sebagai berikut.
a.    Kingsley Davis
    Konflik orang tua dengan remaja merupakan ilustrasi klasik dari teori besar perspektif sosiologis. Davis menyatakan bahwa terjadinya konflik anatara orang tua dengan anak disebabkan oleh beberapa hal, di antaranya : (a) anak sedang mencapai puncak pertumbuhan fisik dan energi; (b) sistem sosial orang tua kurang memberi peluang anak untuk mengembangkan diri; dan (c) remaja bersifat ideal, sementara orang tua bersifat pragmatis.
b.    Ruth Benedict
    Dia berpendapat bahwa upaya mengasuh remaja sampai mampu menempati posisi dewasa secara penuh merupakan masalah pokok dalam masyarakat. Dia mengkaji implikasi diskontinuitas antara anak-remaja, dan remaja-dewasa terhadap konflik dan penyesuaian.




4.    Perspektif Psikologis
        Teori-teori psikologis mengkaji hubungan antara mekanisme penyesuaian psikologis dengan kondisi-kondisi sosial yang memfasilitasinya (mempengaruhinya). Sress dan krisis di pandang sebagai elemen-elemen pokok dalam prespektif ini.
        Tokoh yang dipandang mewakuli prespektif ini adalah Erik H. Erikson. Dia berpendapat bahwa reamaja bukan sebagai periode konsolidasi kepribadian, tetapi sebagai tahapan penting dalam siklus kehidupan. Masa remaja berkaitan erat dengan perkembangan “sense of identity vs role confusion”, yaiutu perasaan atau kesadaran akan jati dirinya. Remaja dihadapkan pada berbagai pertanyaan yang menyangkut keberadaan dirinya (siapa saya?), masa depanya (akan menjadi siapa saya?), peran-peran sosialnya (apa peran saya dalam keluarga dan masyarakat, dan kehidupan beragama; mengapa harus beragama?)
        Apabila remaja berhasil memahami dirinya, peran-peranya, dan makna hidup beragama, maka dia akan menemukan jati dirinya, dalam arti dia akan memiliki kepribadian yang sehat. Sebaliknya apabila gagal, maka dia akan mengalami ini berdampak kurang baik bagi remaja. Dia cenderung kuranf dapat menyesuaikan dirinya,baik terhadap dirinya sendiri maupun orang lain.

5.    Perspektif Belajar Sosial
        Walaupuin perspektif ini tidak menjelaskan “Theory of Adolensence” atau pandangan yang komprehensif, namum telah memberikan pandangan tentang pentingnya prinsip-prinsip belajar yang dapat digunakan untuk memahami tingkah laku remaja dalam berbagi status sosial. Beberapa ahli teori belajar sosial adalah sebagai berikut.
a.    Boyd McCandless
    Dia mengemukakan bahwa perkembangan manusia merupakam dampak akumulatif dari pengalaman belajar yang terintegritas dalam kepribadian. Dalam menjelasakan makna kepribadian, dia mengguankan konsep “habit hierarchy”dengan teori “drive” remaja. Dia berpendapat bahwa rangsangan yang memicu atau mendorong respons-respons kebiasaan mungkin berasal dari dalam atau luar diri individu. Drive dasar adalah yang membentuk kepribadian remaja dan tingkah lakunya, seperti rasa lapar, pencarian kenyamanan, menghindari diri  dari rasa sakit dan seks.

b.    Talcot Parson
    Dia mengemukakan bahwa elemen-elemen “reinforcement” dalam masyarakat yang kompleks memberikan dampak yang kuat terhadappola-pola tingkah laku remaja. Dia mencatat suatu perkembangan yang menonjol dalam sikap ketergantungan anak, terutama kepada ibunya. Ibu sebagai pelindung anak, memiliki kekuatan yang besar (dalam mendisiplin dan memberikan “reward” kepada anak), sehingga anak bergantung padanya. Motivasi anak untuk melepaskan diri dari ibunya, memungkinkan untuk memperoleh prestasi sosial yang tepat melalui kasih sayag orang tua dan perlakuan yang menyenangkan.

c.    Albert Bandura
    Dia telah memberikan gambaan tentang teori belajarsosial secara komprehensif yang dapat diaplikasikan untuik memecahkan atau meneliti perubahan perilaku remaja. Bandura berpendapat bahwa prose kognitif yang mengatarai perubahan tingkah laku dipengaruhi oleh penglaman yang mengarahkan untuk menuntaskan kertampilan-ketrampilan atau tugas-tugas. Mekanisme sosial yang memfasilitasi harapan-harapan pribadi meliputi empat sumber pokok yang berpengaruh, yaitu;
1)    Pengembangan ketrampilan yang kondusif bagi perubahan tingkah laku, yaitu remaja diberikan kesempatan berperilaku, mengobservasi orang lain yang menampilkan perilaku yang layak secara berhasil, atau diberikan pengalaman intruksi/ mengajar sendiri.
2)    Pengalaman yang beragam, di mana remaja mempunyai kesempatan untuk memandang model-model simbolis yang memberikan sumber informasi penting yang dapat meningkatkan harapan-harapan dirinya.
3)    Persuasi verbal, seperti sugesti dan teguran.
4)    Penciptaan situasi yang dapat mengurangi dorongan emosional, yang mempunyai nilai-nilai informatis bagi kompetensi pribadi.
Belajar mengobservasi telah memberikan dampak yang cukup kuat terhadapa tingkah laku sosial-antisosial anak atau remaja. Dalam hal ini, Bandura telah merancang tiga dampak utama dari pengamatan tingkah laku individu yang dijadikan model yaitu (1) remaja memperoleh pola-pola respons baru, ketika dia berfungsi sebagai pengamat, (2) pengamatan terhadap tingkah laku model dapat memperkuat atau memperlemah respons-respons yang tidak diharapkan (yang ditolak), dan (3) mengamati tingkah laku yang lain dapat mendorong remaja/anak untuk melakukan kegiatan yang sama.
Dalam kaitan dengan ketiga dampak diatas, interaksi sosial remaja dalam kelompok sebaya dapat merangsang/menstimulasi pola-pola respons baru melalui belajar dengan cara mengamati. Di sini kelompok sebaya telah memberikan kesempatan belajar kepada remaja untuk mengimitasi berbagai tingkah laku para anggota kelompok lainnya.

6.    Perspektif Psikoanalisis
        Freud memandang bahwa masa anak akhir dan remaja awal merupakan periode yang lebih tenang. Masa ini dinamakan periode “latency”, ego terbebas dari konflik antara insting seksual dengan norma-norma sosial. Periode ini merupakan saat anaka berkonsolidasi untuk mencapai perkembangan ego dan super egonya. Pada periode ini pula, anak banyak melibatkan dirinya dalam kegiatan sosial. Masa remaja awal dipandang mampu mensublimasi insting melalui saluran-saluran yang secara sosial dapat diterima. Contohnya, insting agresif dapat disalurkan kedalam kegiatan kreatif; senimusik atau drama.
        Ana Freud, anak perempuan Freud, merujuk periode remaja ini sebagai masa “internal disharmony” (ketidakharmonisan internal). Kondisi ini menyebakan masa remaja dipandang sebagai periode “strom & stress”. Pada masa ini (masa latency) konsolidasi egonya terancam oleh orientasi genital baru yang dapat menghidupkankembali dorongan pregenital yang dikontrol oleh perthanan ego yag disebut “represi”.
        Represi ini merupakan mekanisme pertahanan ego yang menjaga atau memelihara kekuatan/ dorongan insting dengan cara menyembunyikan dari kesadarannya atau pikirannya.
        Selanjutnya Anna mengemukakan bahwa terdapat beberapa masalah pokok mekanisme pertahanan ego pada masa remaja, yaiitu sebagai berikut.
a.    Ego mencoba untuk menganti konflik oedipal dengan orang tua. Pertahanan ego mencoba meringakan kecemasan-kecemasan yang berhubungan dengan dorongan regresi. Disni remaja menarik kecintaannya terhadap orang tua, dan mengalihkan atau memperluas persaan cintanya itu kepada penggati orang tua. Proses ini sering mengarahkan remaja untuk meperlakukan orang tua denga sikap bodoh, sementara itu ia menggunakan banyak waktu dan enaerginya bagi penganti orang tuanya.
b.    Ego gagal menolak desakan regresif dengan kembali kepada dorongan-dorongan (implus) seksual kekanak-kenakan.
        Masa remaja ini dapat dipandang juga sebagai periode berkembangnya kempauan interpersonal. Oleh karena dorongan untuk berhubungan seksual dengan keluarga (incestuos) dire press (ditekan), maka energi seksual atau dilepas untuk membentuk pengikatan cinta kasih. Dalam proses ini, super ego untuk sementara diperlemah. Dengan mengurangi pengaruh aturan super ego, remaja mungkin mengalami masalah dalam mengontrol dirinya. Penekanan terhadap dorongan untuk menjalin cinta kasih secara seksual dengan keluarga, remaja menjadi bingung, merasa sedirian dan terisolasi.
        Tidaklah aneh bahwa dampak dari kebingungannya ini mereka kembali kepada teman. Minat persahabata ini, merupakan kesenangan untuk mengagumi dan mencintai orang lain yang memiliki kualitas yang sama, dimana anak dapat memperoleh penggatinya melalui persahabatn tersebut. Dalam hal ini, ego mencoba untuk mengintegrasikan pengikatan yang baru ini dengan mereduksi dorongan insting. Ego memproses testing alternatif-alternatif dengan memilih aktif dan pasif. Pilihan ini menjadikan remaja mengakami fluktuasi dalam berperilaku, antara : sensitif-koersif, hiduyp berkelompok-menyendiri, optimis-pesimis atau idealis-materialis.


NILAI, MORAL, DAN AGAMA

A.    PENGERTIAN NILAI, MORAL, DAN AGAMA
1.      Definisi Nilai
Nilai merupakan sesuatu yang diyakini kebenarannya dan mendorong orang untuk mewujudkannya. Nilai merupan sesuatu yang memungkinkan individu atau kelompok social membuat keputusan mengenai apa yang dibutuhkan atau sebagai suatu yang ingin dicapai (Horrocks, 1976).
Menurut Spranger, nilai diartikan sebagai suatu tatanan yang dijadikan panduan oleh individu untuk menimbang dan memilih alternative keputusan dalam situasi social tertentu (Sunaryo Kartadinata, 1988).
      Sparanger (Edwards, 1987) menggolongkan nilai ke dalam enam jenis, yaitu
a.       Nilai teori atau nilai keilmuan (I)
b.      Nilai ekonomi (E)
c.       Nilai sosial atau nilai solidaritas (Sd)
d.      Nilai agama (A)
e.       Nilai seni (S), dan
f.       Nilai politik atau nilai kuasa (K)
Nilai keilmuan (I) mendasari perbuatan seseorang atau sekelompok orang yang bekerja terutama atas dasar pertimbangan rasional. Nilai ini dipertentangkan dengan nilai agama (A), yaitu suatu nilai yang mendasari perbuatan seseorang atas dasar pertimbangan kepercayaan bahwa sesuatu itu dipandang benar menurut ajaran agama.
Nilai ekonomi (E) adalah suatu nilai yang mendasari perbuatan seseorang atau sekelompok orang atas dasar pertimbangan ada tidaknya keuntungan financial sebagai akibat dari perbuatannya itu. Nilai ini dikontraskan dengan nilai seni (S), yaitu suatu nilai yang mendasari perbuatan seseorang atau sekelompok orang atas dasar pertimbangan atas dasar keindahan atau rasa seni yang terlepas dari berbagai pertimbangan material.
Nilai solidaritas (Sd) adalah suatu nilai yang mendasari perbuatan seseorang terhadap orang lain tanpa menghiraukan akibat yang mungkin timbul terhadap dirinya sendiri, baik berupa keberuntungan atau ketidakberuntungan. Nilai ini dikontraskan dengan nilai kuasa (K), yaitu suatu nilai yang mendasari perbuatan seseorang atau sekelompok orang atas dasar pertimbangan baik buruknya untuk kepentingan dirinya atau kelompoknya.
Dari enam nilai tersebut, yang dominan dari masayarakat tradisional adalah nilai solidaritas, nilai agama,dan nilai seni (Sd-A-S), sedangkan pada masyarakat modern nilai yang dominan adalah nilai keilmuan, nilai ekonomi, dan nilai kuasa (I-E-K). sebagai konsekuensi dari proses pembangunan yang terus-menerus berlangsung, memungkinkan terjadinya pergeseran nilai-nilai tersebut. Dengan menggunakan model dinamik-interaktif, pergeseran nilai keilmuan dan nilai ekonomi (I-E) akan cenderung lebih cepat dibanding dengan nilai-nilai lainnya. Ini merupakan konsekuensi dari kebijakan pembangunan yang memberikan prioritas pada pembangunan ekonomi dan ditunjang oleh cepatnya perkembangan ilmu dan teknologi (Geriya dan Atmaja, 1985)
Remaja sebagai individu maupun komunitas masyarakat juga memiliki nilai-nilai sebagaimana disebutkan diatas. Dinamika maupun perkembangan juga konsisten sebagaimana dijelaskan oleh model dinamik-interaktif tersebut. Selain itu, juga tergantung pada kelompok masyarakat tradisional taukah modern para remaja itu berkembang.

2.      Definisi Moral
Istilah moral berasal dari kata Latin mores yang artinya tata cara dalam kehidupan, adat istiadat, atau kebiasaan (Gunarsa, 1986). Morala pada dasarnya merupakan rangkaian nilai tentang berbagai macam perilaku yang harus dipatuhi (Shaffer, 1979). Moral merupakan kaidah moral dan pranata yang mengatur perilaku individu dalam hubungannya dalam kelompok social dan masyarakat. Moral merupakan standar baik dan buruk yang ditentukan bagi individu oleh nilai-nilai social budaya di mana individu sebagai anggota social (Rogers, 1985).
      Tokoh yang paling dikenal dalam kaitannya dengan pengkajian perkembangan moral adalah Lawrence E. Kohlberg (1995).
Dalam pandangan Kohlberg, sebagaimana juga pandangan Jean Paget salah seorang yang sangat dikaguminya bahwa bwedasarkan penelitiannya, tampak bahwa anak-anak dan remaja menafsirkan segala tindakan dan perilaku sesuai dengan struktur mental mereka sendiri dan menilai dan menilai hubungan soail dan perbuatan tertentu sebagai adil atau tidak adil, baik atau buruk, juga seiring dengan tingkat perkembangan atau struktur moral mereka masing-masing.
      John Dewey yang kemudian dijabarkan oleh piaget(Kohlberg,1995) mengemukakan tiga tahap perkembangan moral.
a.       Tahap pramoral : ditandai bahwa anak belum menyadari keterikatannya pada aturan
b.      Tahap  Konvensional: ditandai dengan perkembangan kesadaran akan ketaatan pada kekuasaan.
c.       Tahap Otonom : ditandai dengan berkembangnya keterikatan pada aturan yang di dasarkan pada resiprositas.
Lawrence E. Kohlberg mengemukakan tingkatan dan tahap-tahap perkembangan moral,yaitu sebagai berikut.
    a. Tingkat prakonvensional,memiliki dua tahap,yaitu
Tahap 1 :orientasi hukuman dan kepatuhan,dan
Tahap 2:orientasi relativis- instrumental                    

b. Tingkat konvensional,memiliki dua tahap,yaitu
    Tahap 3 :Orientasi kesepakatan antara pribadi atau disebut orientasi “anak           manis”dan   
     Tahap 4: Orientasi hokum dan ketertiban
c.Tingkat pascakonvensional
Tahap 5:Orientasi kontrak social legalitas,dan
Tahap 6:Orientasi prinsip etika universal.



3.      Devinisi Agama
Dalam pembagian tahap perkembangan manusia, maka masa remaja menduduki tahap progressif. Dalam pembagian yang agak terurai masa remaja mencakup masa: Juvenilitas (adolescantium), pubertas dan nubilitas. Sejalan dengan perkembangan jasmani dan rohaninya, maka agama pada remaja ini menyangkut adanya perkembangan itu.
a.       Aspek Perkembangan
            Perkembangan agama pada remaja ditandai oleh beberapa faktor perkembangan rohani dan jasmaniya. Perkembangan itu antara lain menurut W. Strarbuck adalah:
1). Pertumbuhan pikiran dan mental : Ide dan dasar keyakinan beragama yang diterima remaja dari masa kanak-kanaknya sudah tidak begitu menarik bagi mereka.
2). Perkembangan perasaan : Perasaan sosial, ethis dan estetis mendorong remaja untuk menghayati prikehidupan yang terbiasa dalam lingkungan kehidupan agamis akan cenderung mendorong dirinya untuk lebih dekat ke arah hidup agamis.
3). Pertimbangan sosial : Corak keagamaan para remaja juga ditandai oleh adanya pertimbangan sosial.
4). Perkembangan moral : Perkembangan moral para remaja bertitik dari rasa berdosa dan usaha untuk mencari proteksi.
            b. Konflik dan Keraguan
Dari sampel yang diambil  W. Starbuck  terhadap mahasiswa Middleburg Colleg, tersimpul bahwa dari remaja usia 11-16 tahun terdapat: 53% dari 142 mahasiswa yang mengalami konflik dan keraguan tentang ajaran agama yang mereka terima, cara penerapan, keadaan lembaga keagamaan dan para pemuka agama.
Selanjutnya secra individu sering pula. Terjadi keraguan yang disebabkan beberapa hal antara lain mengenai:
a)      Kepercayaan, berupa ketuhanan dan implikasinya.
b)      Tempat Suci, pemulian dan pengagungan tempat-tempat suci agama.
c)      Alat perlengkapan keagamaan, fungsi salib dan rosario dalam kristen.
d)     Fungsi dan tugas staf dalam lembaga keagamaan
e)      Pemuka agama, Biarawan dan Biarawati, Pendeta, Ulama.
f)       Perbedaan aliran keagamaan, Sekte dalam agama kristen, mazhab dalam agama Islam.
Konflik ada beberapa macam antanya:
a)      Konflik yang terjadi sebagai antara percaya dan ragu.
b)      Konflik yang terjadi antara pemilihan satu diantara dua macam agama atau ide keagamaan serta lembaga keagamaan.
c)      Konflik yang terjadi oleh pemilihan antara ketaatan beragama dan sekularisme.
d)     Konflik yang terjadi antara melepaskan kebiasaan masa lalu dengan kehidupan keagamaan yang didasarkan atas petunjuk ilahi.

B.     HUBUNGAN ANTARA NILAI DAN MORAL
Nilai merupakan tatanan tertentu atau kriteria di dalam diri individu yang dijadikan dasar untuk mengevaluasi suatu sistem.Pertimbangan adalah penilaian individu terhadap suatu objek yang lebih berdasarkan pada sistem nilai tertentu daripada hanya sekedar karakteristik objek tersebut.Moral merupakan tatanan prilaku yang memuat nilai-nilai tertentu untuk dilakukan individu dalam hubungannya dengan individu,kelompok,atau masyarakat.
            Dengan demikian,dapat ditarik benang merah bahwa nilai merupakan dasar pertimbangan bagi individu untuk melakukan sesuatu,moral merupakan prilaku yang seharusnya dilakukan atau dihindari.

C.     KARAKTERISTIK NILAI DAN MORAL
Salah satu karakteristik remaja yang sangat menonjol berkaitan dengan nilai  adalah bahwa remaja sudah sangat merasakan pentingnya tata nilai dn mengembangkan nilai-nilai baru yang sangat diperlukan sebagai pedoman,pegangan,atau petunjuk dalam mencari jalannyasendiri untuk menumbuhkan identitas diri menuju kepribadian yang sangat matang (Sarwono, 1989).
Karakteristik yang menonjol dalam perkembangan moral remaja adalah bahwa sesuai dengan tingkat perkembangan kognisi yang mulai mencapai tahapan berpikir operasional formal,yaitu mulai mampu berpikir abstrak dan memecahkan masalah-masalah yang bersifat hipotetis maka pemikiran remaja terhadap suatu permasalah tidak lagi hanya terikat pada waktu, tempat, dan situasi, tetapi juga pada sumber moral yang menjadi dasar hidup mereka (Gunarsa, 1988).
D.    FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERKEMBANGAN NILAI DAN MORAL
Di dalam usaha membentuk tingkah laku sebagai pencerminan nilai-nilai hidup tertentu ternyata bahwa factor lingkungan memegang peran penting. Diantara segala unsur lingkungan social yang berpengaruh, yang tampaknya sangat penting adalah unsure lingkungan berbentuk manusia yang langsung dikenal atau dihadapi oleh seseorang sebagai perwujudan dari nilai-nilai tertentu. Dalam hal ini lingkungan social terdekat yang terutama terdiri dari mereka yang berfungsi sebagai pendidik dan Pembina. Makin jelas sikap dan sifat lingkungan terjadap nilai hidup tertentu dan moral makin kuat pula pengaruhnya untuk membentuk (meniadakan) tingkah l;aku yang sesuai.

E.     UPAYA PENGEMBANGAN NILAI, MORAL DAN AGAMA REMAJA SERTA IMPLIKASINYA DALAM PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN
Upaya pengembangan nilai dan moral juga diharapkan dapat dikembangkan secara efektif di lingkungan sekolah.Akhir-akhir ini,karena semakin,maraknya perilaku remaja yang kurang menjujung tinggi nilai-nilai moral dan sikap positif maka diberlakukan lagi pendidikan budi pekerti di sekolah.
Adapun upaya-upaya yang dapat dilakukan dalam mengembangkan nilai dan moral remaja adalah
a.      Menciptakan komunikasi
Hendaknya ada upaya untuk mengikut sertakan remaja dalam beberapa pembicaraan dan dalam pengambilan keputas keluarga, sedangkan dalam kelompok sebaya, remaja turut serta secara aktif dalam tanggung jawab dan penentuan maupun keputusan kelompok.
b.      Menciptakan iklim lingkungan yang serasi
Kerena lingkungan merupakan factor yang cukup luas dan sangat bervariasi, maka tampaknya yang perlu diperhatikan adalah lingkungan social terdekat yang terutama terdiri dari mereka yang berfungsi sebagai pendidik dan Pembina yaitu orang tua dan guru.
Para remaja sering bersikap kritis, menentang nilai-nilai dan dasar-dasar hidup orang tua dan orang dewasa lainnya. Mereka tetap menginginkan suatu sistem nilai yang akan menjadi pegangan dan petunjuk bagi perilaku mereka. Karena itu, orang tua dan guru serta orang dewasa lainnya perlu memberi contoh perilaku yang merupakan perwujudan nilai-nilai yang diperjuangkan.
Untuk remaja, moral merupakan suatu kebutuhan tersendiri oleh karena mereka sedang dalam keadaan membutuhkan pedoman atau petunjuk dalam rangka mencari jalannya sendiri. Pedoman ini juga untuk menumbuhkan identitas dirinya, menuju kepribadian yang matang dan menghindarkan diri dari konflik-konflik peran yang selalu terjadi dalam masa transisi ini.
Begitu juga nilai-nilai keagamaan perlu mendapat perhatian, karena agama juga mengajarkan tingkah laku yang baik dan buruk, sehingga psikologis berpedoman kepada agama termasuk dalam final.
Akhirnya perlu juga diperhatikan bahwa satu lingkungan yang lebih banyak bersifat mengajak, mengundang, atau member kesempatan, akan lebih efektif dari pada lingkungan yang ditandai dengan larangan-larangan yang serba membatasi.







F.       Perkembangan Jiwa Keagamaan Pada Remaja
Perkembangan rasa agama
Dalam tahap perkembangan manusia, maka remaja menduduki tahap progresif. Sejalan dengan perkembangan jasmani dan rohaninya, maka agama para remaja terhadap jaran agama dan tindak keagamaan yang Nampak pada remaja banyak berkaitan dengan faktor perkembangan tersebut.
         Perkembangan agama pada para remaja ditandai oleh beberapa faktor perkembangan jasmani dan rohaninya. Perkembangan itu menurut W.Starbuck adalah :
a.                   Pertumbuhan Pikiran dan Mental

Ide dan dasar keyakinan beragama yang diterima remaja dari masa kanak-kanaknya sudah tidak begitu menarik bagi mereka. Sifat kritis terhadap ajaran agama pun sudah mulai timbul. Dari hasil penelitian Allport, Gillesphy dan Young menunjukkan bahwa agama yang dianutnya bersifat lebih konservatif lebih banyak berpengaruh bagi para remaja untuk tetap taat pada ajaran agamanya. Sebaliknya, agama yang ajarannya kurang konservatif-dogmatis dan agak liberal akan mudah merangsang pengmbangan pikiran dan mental para remaja, sehingga mereka banyak meninggalkan ajaran agamanya. Ini menunjukkan bahwa perkembangan pikiran dan mental remaja mempengaruhi sikap keagamaan mereka.

b.      Perkembangan Perasaan

           Perasaan yang telah berkembang pada remaja, perasaan sosial,etis, dan estensis mendorng remaja untuk menghayati kehidupan dan terbiasa dengan lingkungannya. Kehidupan religious cenderung mendorong dirinya lebih dekat kea rah hidup yang religius pula. Sebaliknya, bagi remaja yang kurang mendapat pendidikan dan siraman ajaran agama akan lebih mudah dodominasi dorongan seksual. Masa remaja merupakan masa yang dodorong dengan kematangan seksual, serta perasaan yang ingin tahu dan perasaan super. Remaja akan lebih mudah terperosok kea rah tindakan seksual yang negatif.

c.       Pertimbangan Sosial

Corak keagamaan para remaja juga ditandai oleh adanya pertimbangan sosial. Dalam kehidupan keagamaan mereka timbul konflik antara pertimbangan moral dan material. Remaja sangat bingung menentukan pilihan itu, karena kehidupan duniawi leih dipengaruhi kepentingan akan materi, maka remaja cenderung jiwanya untuk bersikap materialis. Hasil penyelidikan Ernest Harms terhadap 1.789 remaja Amerika antara usia 18-29 tahun menunjukkan, bahwa 70% pemikiran remaja ditujukan bagi kepentingan: keuangan, kesejahteraan, kebahagiaan, kehormatan diri, dan masalah kesenangan pribadi lainnya. Sedangkan masalah agama hanya sekitar 3,6%.

d.      Perkembangan Moral

Perkembangan moral para remaja bertitik tolak dari rasa berdosa dan usaha untuk mencari proteksi. Tipe moral yang juga terlihat pada remaja mencakup:

1)      Sefl-directive, taat terhadap agama dan moral berdasarkan pertimbangan pribadi.
2)      Adaftive, mengikuti situasi lingkungan tanpa mengadakan kritik.
3)      Submissive, merasakan adanya keraguan terhadap ajaran moral dan agama.
4)      Unadjusted, belum menyakini akan kebenaran ajaran agama dan moral.
5)      Deviant, menolak dasar dan hokum keagamaan serta tatanan moral masyarakat.

e.       Sikap dan Minat

Sikap dan minat remaja terhadap masalah keagamaan boleh dikatakan sangat kecil dan hal ini tergantung dari keiasaan masa kecil serta lingkungan agama yang mempengaruhi mereka (besar kecil minatnya).